Aku (Mungkin) Berbeda (2)

Aku harap kamu masih menemukan kelanjutan dari tulisanku sebelumnya. Keinginanku adalah tak ingin apa-apa. Sungguh, sepertinya hatiku mati rasa. Bagiku kesedihan dan kebahagian hanyalah bumbu hidup yang membuat aku merasakan nikmatnya menjadi merdeka. Aku paham sebetulnya konsekuensi dari prinsip hidupku, pilihanku, dan keputusanku.

Suatu saat aku akan mereview kembali jika memang aku salah dalam melangkah. Suatu hari aku akan merenungkan kembali jika nilai-nilai itu keliru. Tapi belum saatnya, kawan. Aku belum kalah. Aku masih ingin mencoba meyakinkan diri untuk tetap semangat dan menebus semua kesalahan yang pernah terjadi. Aku tidak ingin orang-orang tertawa kemudian atas tingkahku yang konyol ini. Atau orang-orang akan mencemooh tentang diriku di masa akan datang. Tidak, teman. Aku tidak akan lemah hanya karena sampai kini aku belum menemukan yang aku cari atau mendapatkan apa yang aku impikan. Aku tidak akan menyerah.

Jika memang nanti aku salah, aku akan meminta maaf pada orang-orang yang pernah menasehatiku dan berterima kasih padanya. Aku akan belajar kembali menjadi pribadi yang manut dengan apapun. Aku akan mengikuti sistem yang dibuat orang-orang. Aku janji tidak akan memberontak lagi.

Saat aku menulis ini, di 10 Juni, aku baru saja mendapat kabar baik dari sahabatku. Ia akan melangsungkan pernikahan di pekan ini. Aku turut bahagia, meskipun aku berusaha untuk tidak tersulut emosi untuk segera menikah. Aku tahu, usiaku sudah berlumut jika aku jadi tanaman. Atau aku hewan yang bersungut tebal jika aku hidup dari zaman reformasi menuju milenial ini. Adik-adik di masa kuliah sudah banyak yang menikah. Teman-teman sekolah sudah sold out. Tinggal aku masih melajang layaknya lelaki yang enggan menikah. Aku sadar itu, tapi aku memilih menunggu. Ada alasan untuk menunggu cinta yang sebenarnya, yang sudah lama kunantikan.

Lagi-lagi aku berbeda. Aku menunggu saja kerjanya. Ya, begitulah. Aku memang seorang yang dipaksa menunggu. Kadang dipaksa untuk ditinggalkan. Sedih memang, tapi aku bahagia dengan pilihanku. Jika aku mau memutar haluan, sudah lama aku menikah. Tapi menikah tanpa pengorbanan yang besar, aku rasa tidak ada artinya. Aku memilih untuk menunggu. Menunggu seseorang di laul mahfuz. Ya, seseorang yang memang sudah ditakdirkan untukku.

Di akhir Mei lalu, aku bersilaturahmi ke rumah teman. Dia juga bersilaturahmi ke rumahku. Orangtua kami sama-sama setuju jika kami menikah. Kelihatannya memang kami memiliki kecocokan yang pas untuk menikah. Tapi, bagiku tidak, teman. Aku tidak bisa mencintainya apalagi hidup selamanya bersama dia. Dalam segala aspek sebenarnya antara kami banyak perbedaan. Begitupun dalam hal perasaan, kami banyak sekali perbedaan. Aku khawatir, jika menikah dengan orang yang tak selera dengan prinsip hidupku, itu hanya akan menjadi bom waktu yang meletus dahsyat nantinya. Aku tak ingin demikian, ia juga. Kami menjalin pertemanan saja. Melanjutkan pertemanan yang selama ini terjalin dengan baik. Aku tahu, teman perempuanku itu kecewa, tapi kami harus bertanggung jawab untuk tetap baik-baik saja.

Bagiku, menikah itu rumit. Bukan soal tanggungjawab, tapi perihal prinsip. Dulu aku berniat ingin serius dengan seorang penulis, tapi setelah kuinap-inapkan betul, aku bukanlah tipe dia. Aku dan dia sama-sama keras kepala. Dia punya selera sendiri, aku juga. Ibaratnya begini, jika di waktu yang sama kami ingin berekreasi, aku memilih pantai, ia memilih bioskop, akhirnya tak ada yang mau mengalah. Tapi, jika memang demikian, tentunya aku mengalah, karena aku laki-laki yang di pundakku ada tanggung jawab tentang keharmonisan rumah tangga. Sebenarnya aku terlalu jelimet dalam hal menemukan pasangan, tapi apa boleh buat, aku benar-benar kacau, teman. Aku mengembara dalam dunia hayalku semata.

Esok aku akan menghadiri acara pernikahan sahabat. Ini adalah pernikahan sahabat yang ke sekian selama masa pandemi ini. Aku sedih bukan karena dia menikah, tapi aku tak dapat mengelak dari pertanyaan, "Bro, lu kapan?". Aku tak punya jawaban yang pasti untuk itu. Dan aku tidak akan berdebat lagi soal ini, tidak akan.

Dimana-mana, aku singgah dan bercengkrama, yang pertanyaan ini tentu tidak akan pernah alfa dari topik yang dibicarakan. Aku sudah muak dan tak lagi tertarik. Apakah tak ada topik lain saja? Apakah begini obrolan orang-orang yang seusia sepertiku? Ingin  kusumbat mulut 'jahannam' mereka, tapi lagi-lagi mereka adalah teman-temanku. Aku lebih menjaga pertemanan daripada menyulut emosi.

Ah sudahlah. Aku harus tebal muka dan bersikap masa bodoh saja. Ya meskipun itu tetap akan terbawa dalam hari-hari, aku tetap ingin menjalaninya. Aku yakin, pada akhirnya, semua orang akan berlabuh di dermaga itu. Jika mereka mau menepis sedikit ego yang selama ini bersarang dalam hatinya. Hidup adalah dikendalikan rasa dan tanggung jawab. Begitulah.

Ada satu hal yang membuat aku yakin hingga kini, seseorang yang tidak mau menyoal tentang aku. Ia melihat aku tumbuh dengan caraku sendiri. Ia tetap mendoakan aku, memberiku semangat. Katanya, semua akan baik-baik saja. Ia mampu menenangkan badai dalam diriku, menenangkan rindu yang buncah itu, dan sikapku yang keras seperti batu. Jujur, sampai kini, aku kuat karenanya.

Siapakah dia? Di lain tulisan, aku akan mengulasnya.


Acet Asrival.

Padang, 10 Juni 2020
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter