Aku (Mungkin) Berbeda (1)

Jika menemukan tulisan ini, aku harap kamu berkenan membaca sampai selesai. Aku tidak menshare ke media sosial seperti tulisan lainnya. Aku hanya mempublikasikan. Aku yakin, jika ada yang benar-benar menyukai tulisan-tulisan yang aku buat, ia pasti akan menemukan bagian dari tulisan ini.

Padang, 10 juni 2020.

Merayakan tiga sasi pandemi (sosial/fhisycal distanting), aku betul-betul kehilangan hari-hariku, anak didikku, yang tiap hari menyapaku. Kini tak terdengar lagi suara riuh-riang mereka. Jika rindu itu benar-benar masih ada, aku merindukan mereka. Jujur, sudah lama kumusnahkan rindu dalam hatiku. Setelah kepergian seseorang, aku tak pernah lagi menyoalkan rindu itu seperti apa. Tidak.

Aku tidak punya aktivitas rutin lagi. Semuanya direbut corona. Aku tak tahu cara menghentikannya. Tapi, aku manut dengan cara yang dilakukan pemerintah, yakni dengan mengikuti protokal kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Dengan begitu, aku telah ikut menyelamatkan dunia dengan menjalani hari-hari di rumah saja. Keadaan ini adalah suatu hal yang benar-benar baru aku alami. Aku merasakan kehidupan ini separuhnya hilang.

Untuk mengisi waktu, aku menulis. Menulis apa saja. Bulan pertama dan setengah bulan kedua, aku menyelesaikan sebuah naskah motivasi. Di awal Mei aku mengirimkan naskah itu ke email penerbit konvensional. Sebenarnya, aku kurang percaya diri mengetuk hati redakturnya. Tapi apa salahnya aku mencoba, barangkali ia jatuh cinta pula. Sudah sebulan berlalu, kemarin awal Juni ada pemberitahuan bahwa naskahku dalam proses review tahap pertama. Aku tak tahu ada berapa tahap untuk direview. Membayangkannya saja, aku jadi ngeri. Kalau-kalau, tulisanku dibedah habis-habisan kemudian dilempar kembali ke mukaku. Tentunya aku harus siap pasang muka, setidaknya aku ingin terlihat kuat meskipun ditolak. Itu asumsi pertamaku, jika memang aku kini belum layak menulis seperti penulis-penulis hebat lainnya.

Asumsi kedua, aku yakin editornya jatuh cinta, sebab aku menulis naskah itu sungguh-sungguh, dengan perasaan cinta yang dalam. Naskah itu lahir dari hubungan kerjasama antara hati dan pikiranku, yang didorong oleh hasrat dan impian. Aku yakin tulisanku mengena 'rasa' editor. Ia harus jatuh cinta pada naskahku itu. Kapan perlu, aku akan membubuhi kata-kata cinta agar ia suka. Tapi sayang sekali, ia bukan siapa-siapa. Ia bukan perempuan yang sedang jatuh cinta pada penulis sepertiku. Aku hanyalah seorang yang bandel yang tak pernah mau bernegosiasi dalam prinsip dan ideologi menulis.

Akhirnya, aku lupakan saja. Biarlah jika memang naskah itu layak terbit, ia akan menjadi sebuah buku yang mejeng di toko-toko buku seluruh kelurahan. Atau ia akan beredar di platform media sosial dengan gaya selfi dan boomerang. Aku udah ngebayangin nanti bakal naik gunung untuk mengabadikan momen bersama buku itu. Jika tidak, ia akan menjadi pengembara yang menemui siapa saja yang mau berteman dan merasakan kehadirannya. Suatu saat, ia akan menemukan tempat bermukim dengan orang-orang baik.

Bulan kedua memasuki akhir bulan Mei, aku menulis apa saja. Kadang nulis cuplikan motivasi, kadang puisi, juga nulis rindu untuk seseorang. Seseorang? Siapa pula itu? Tak ada yang benar-benar sudi aku rindukan. Tapi aku tetap menciptakan seseorang itu dalam wujud seorang perempuan. Aku sudah membayangi gesturnya, fisiknya, sangat detail sekali. Kuberi nama seseorang itu dengan Triste. Triste memang menjadi tokoh kesayangn yang kutulis dalam naskah novel dan cerpen dua tahun belakangan.

Ada puluhan puisi yang sudah jadi, aku arsipkan dulu. Kelak ketika aku menemukan seseorang yang bersedia menemani lelaki melankolis ini berpetualang, aku akan terbitkan sebagai hadiah pernikahan untuknya dan ucapan terima kasih di bagian kata pengantar buku puisi itu. Aku sudah tetapkan judul, kuberi ia nama "Seperti Doa-doa", yang memang isinya bernuasa religi dan kekuatan sebuah rindu dan cinta. Aku yakin ia suka. Sebab, cinta kami ketika itu telah mengikat kuat, mengakar dalam, menembus dinding-dinding sekat yang selama ini menjadi tirai penghalang untuk sebuah temu.

Awal Juni, pasca lebaran, aku berangkat ke kota. Kabarnya, New Normal akan diberlakukan. Artinya, akses untuk berinteraksi sosial dengan orang banyak sudah mulai dibuka kembali, namun masih dalam nuansa pandemi. Kebebasan diatur demikian ketat. Seperti narapidana yang mendapat remisi tahanan akibat wabah, mereka bebas tapi tetap dalam pemantauan dan wajib lapor 1x 168 jam. Tak apa, yang penting hidup tidak lagi terkurung dalam sepi.

Aku berangkat ke kota mengadu nasib. Untung-untung saja ada aktivitas di kota. Sekolah tempat aku mengajar masih home learning. Anak-anak belajar daring lewat aplikasi yang menghasilkan jutaan dolar di masa pandemi ini di saat yang sama orang-orang bawahan mengalami tekor yang luar biasa besar. Apa boleh buat? Seakan dunia ini milik mereka yang berkuasa. Terpaksa dan terserah adalah dua kata yang sama-sama bulshit untuk diresapi.

Tentunya, kondisi demikian tak cukup menguntungkan bagiku yang berstatus guru lepas di beberapa sekolah dan tempat belajar non formal. Aku sengaja tak memilih menjadi honorer di lembaga pendidikan, sebab menurutku, menjadi honorer hanyalah menghabiskan waktu di lingkungan yang sama, dengan pendapatan yang sedikit, juga tanggung jawab yang tidak sedikit. Ini sebenarnya bukan soal materi. Tapi perihal kebebasan dalam memerankan diri dalam memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Tapi, aku turut prihatin dengan teman-teman yang terpaksa mengonor, karena memang tak ada jalan lain selain itu. Daripada tak ada pekerjaan, mending pakai seragam meskipun gajinya beragam pula. Akhirnya hidup seakan terkungkung dengan rutinitas yang sebenarnya membosankan dan tidak memuaskan secara pinansial. Aku berharap, semoga suatu saat guru-guru di +62 ini akan mendapatkan kesejahteraan seperti guru-guru di negara tetangga.

Aku memilih untuk jadi guru biasa saja. Jadi guru yang dirindukan anak-anak. Guru yang tidak mudah diintervensi oleh pihak pertama. Aku paling tidak suka bekerja dalam pengawasan orang lain. Aku ingin bebas mengajar dan mendidik murid-muridku. Jika sedikit saja ada yang menggaruk, aku tampar pakai puisi. Percayalah.

Kadang aku merasa asing dan berbeda. Orang-orang mengatakan demikian. Bahkan saudaraku sendiri sering sekali protes akan sikapku yang idealis itu. Tapi aku tak ambil pusing. Aku bertanggung jawab dengan kehidupanku, prinsip yang aku dekap, dan caraku menjadi manusia. Mungkin benar, aku berbeda, kala orang-orang mau manut dengan keadaan yang demikian, aku justru memberontak dan mengkritik hal-hal yang tak masuk akal itu. Tapi sudahlah, setiap orang pasti punya sesuatu yang menjadi asas ia tumbuh. Aku percaya bahwa aku akan menemukan ruang untuk berekspresi dan menjadi diri sendiri.

Keluargaku, acapkali ngomongin aku jika aku pulang ke kampung halaman. Mereka kata, mengapa aku memilih menjadi guru mengaji? Mengapa tak memanfaatkan ijazah magister itu untuk menjadi guru atau dosen? Mencoba mengonor seperti orang-orang atau mengantar sepucuk lamaran ke kampus-kampus? Aku tidak jawab apa-apa. Aku paling tidak suka berdebat dengan keluarga perihal prinsip hidup. Aku iyakan saja, nanti aku akan coba. Ya, mencoba menjadi pengemis di tempat-tempat orang malas belajar.

Di Februari 2020, aku menuju Lampung untuk ikut tes seleksi CPNS di IAIN Metro Lampung. Aku ambil dosen Pendidikan Agama Islam. Aku memilih bersaing dengan jumlah orang ratusan dibanding jumlah peserta puluhan. Di kota sebelah tempat aku tinggal, ada juga penerimaan dosen PAI dengan jumlah peserta sekitar puluhan orang, tapi aku tak berminat. Sebab, di sana teman-teman kuliahku juga ikut dan pesaingnya juga sedikit. Padahal itu peluang besar dibanding di tempat yang aku ikuti. Apalagi jika aku ambil formasi guru PAI di daerah Sumatera Barat yang peluangnya juga berjibun dengan pesaing yang rata-rata sama kompetensinya denganku, tapi aku tetap memilih rantau yang jauh dengan orang-orang yang beragam kultur dan kampus yang berbeda. Aku merasa di sana perjuangan, di saat itu aku harus benar-benar serius.

Aku tidak lulus tes tahap awal. Ada sekitar puluhan orang yang nilainya lebih tinggi dari nilai yang aku peroleh. Aku terhimpit gelombang pasang dan terhenti di gelombang surut. Ya, perjuangan itu memang pasang surut seperti air laut. Kadang kita terdampar ke tepi, kadang diseret ke tengah. Aku tidak sedih. Serius! Aku pulang dengan hati lega, bahwa aku bertanggung jawab dengan pilihanku.

Orang-orang sudah paham kalau aku memang berbeda. Aku sedikit bandel dalam hal kompromi soal prinsip hidup. Hidupku kacau-balau teman. Aku benar-benar kacau sebenarnya. Sekali lagi, aku harus bertanggung jawab dengan standar nilai-nilai yang aku jalani.

Acet Asrival
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter