Hujan dan Kenang


Puisi: Melisa Chaniago

Rintik-rintik hujan jatuh deras, berdentum di atas atap; di bawahnya aku mengurung setumpuk risau. Hujan itu perlahan jatuh ke tanah, diserap akar pohon, dihisap kelopak bunga. Di mataku ia menggenang dan menyimpan banyak kenang.

Alunan bunyi hujan mengalir dalam hati; memanggil mendung dalam diri, mengingat murung dalam hari-hari.
Tak kusadari aku terseret dalam kenangan lama; Kenangan kenangan yang begitu indah; meski dilema.
Seakan hidupku terasa sempurna, namun hambar tak bermakna.

Aku seperti dalam mimpi, seketika kenangan itu berputar haluan, berabalik arah dan tujuan, menggaris luka di telapak tangan, telapak yang mengisahkan garis-garis nasib, telapak yang pernah kau tulis tentang cinta dan kesetiaan itu. Namun... Perih dan sedih adalah aku,  aku yang tak pernah mampu mengatakan selamat tingga untukmu.

Kesedihan itu telah kusimpan berabad-abad,
menjadi sebuah telaga; di sana air mataku bermuara.

Hujan menggali kembali  tanah-tanah yang dulu tertimbun; kenangan yang dulu pernah kumiliki. Kisah cinta yang pernah ada.

Hujan... ketika kau jatuh di mataku,
bawa aku kembali, pada hari-hari yang dulu
atau bawalah ia mengalir pada muara-muara yang lain.
Dan aku ingin menghanyutkan  kesedihan ku ini selamanya.
Dalam genangan kisah yang tak pernah pisah.

[Indropuro, Juni 2020]
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter