Jangan Beri Syarat Pada Bahagiamu


Oleh: Yusrina Sri (Penulis 5 Buku)

Kamu termenung, dan berpikir, jika nanti aku naik pangkat, pasti aku akan bahagia. Atau alangkah senangnya jika bisa punya rumah dan mobil mewah. Atau aku harus sukses, punya pekerjaan bagus, penghasilan besar, dan rumah sendiri, baru aku bisa membahagiakan orangtuaku. Atau Ibu pasti akan sangat bahagia jika aku belikan rumah, atau pergi haji. Atau aku akan bahagia jika nanti sudah punya pasangan, anak, tinggal di rumah sendiri, tanpa menyusahkan siapa pun. Atau, jika aku sudah begini, begini, begini, dan mencapai ini, ini, ini, baru aku akan bahagia, baru aku akan bersyukur. Atau pikiran apa pun yang semisal itu.

Kamu memberi syarat pada bahagiamu. Kamu memberi standar dalam merasakan bahagia. Kamu menjadikan harta, jabatan, pencapaian, dan isi dunia sebagai definisi untuk mengartikan kebahagiaan. Sehingga saat kamu tidak memperolehnya, belum mampu mencapainya, kamu merasa tidak bahagia. Kamu murung. Kamu frustrasi. Kamu merasa hidupmu hancur.

Kamu tidak perlu memberi syarat pada bahagiamu, bahwa kamu harus mencapai ini-itu baru bahagia, kamu harus beli ini-itu baru bahagia, kamu harus punya ini-itu baru bahagia, atau kamu harus ke sini-situ, baru kamu bisa bahagia. Bahagia letaknya bukan pada pencapaian, tapi pada penerimaan, karena di dalam penerimaan ada kesyukuran. Tidak perlu menunggu bahagia baru bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Tapi cobalah bersyukur, mulailah berterima kasih, maka kamu akan merasa bahagia. Meski mungkin kamu tidak kaya, tidak naik jabatan, belum punya mobil, masih tinggal di rumah kontrakan, belum bisa pergi haji, dan sebagainya.

Kamu tidak perlu menunggu harus bisa mencapai ini-itu dulu, baru berusaha membahagiakan orangtuamu atau pasanganmu atau anakmu atau orang lain dengan pencapaianmu itu, dengan hartamu itu. Mereka tidak perlu itu semua darimu untuk membuat mereka bahagia. Mereka hanya butuh dirimu, perhatianmu, kehadiranmu, kasih sayangmu, baktimu, akhlakmu yang mulia. Apakah kamu mau diberi uang ratusan ribu oleh seseorang, tapi sebelumnya kamu ia hardik dan teriaki. Mau? Pasti kamu akan merasa bahwa uang ratusan ribu itu tidak berharga, karena hatimu telah tersakiti. Begitulah. Betapa harta, tahta, jabatan, pencapaian, bahkan seisi dunia sekalipun tidak akan mampu membeli kebahagiaan, membeli cinta kasih, membeli akhlak mulia, membeli kehangatan keluarga, memberi kesyukuran hamba pada penciptanya.

Jadi, apakah kamu masih mau menggantungkan bahagiamu kepada sesuatu yang bahkan tidak benar-benar mampu untuk menyenangkan hatimu? Dunia hanya menyilaukan mata saja, tidak benar-benar meneranginya.

Jika selama ini, tidurmu masih kurang nyenyak, dan bebanmu terasa masih berat, karena mencemaskan dunia dan seisinya, entah itu pekerjaanmu, penghasilanmu, karir dan pencapaianmu, rehatlah. Beristirahatlah dari itu semua. Lepaskanlah ia. Tanggalkan target yang kamu pasang agar bisa bahagia, agar bisa tidur nyenyak, agar bisa nikmat makan. Kamu tidak perlu itu semua.

Kamu bisa memulainya dengan mensyukuri apa yang ada. Sembari mengupayakan segala yang kamu bisa, demi orang-orang yang kamu sayangi, namun jangan jadikan itu sebagai syarat, standar, dan tolak ukur dari kebahagiaanmu. Ada atau tidak ada itu semua, kamu tetap bahagia, karena kamu mensyukuri segala yang kamu punya, bukan merutuki segala yang belum bisa kamu punya. Karena bahagia yang hakiki adalah tentang mensyukuri.[]

***
Hai teman-teman, tulisan kali ini spesial loh. Kemarin aku menghubungi penulis keren yakni Yusrina Sri, lalu minta sedikit tulisannya untuk dipublikasikan di Beranda Edukasi, nah, ini adalah tulisan yang beliau sumbangkan untuk blog ini. Kalau teman-teman penasaran untuk membaca tulisan-tulisan beliau, aku kasih tahu nih ya, beliau udah nulis 5 buku loh.

Buku pertamanya "Bangga Jadi Perempuan" (Non Fiksi). Buku ini mengulas tentang sosok-sosok perempuan tangguh yang pernah ada di muka bumi ini. Perempuan inspiratif yang terdapat dalam beberapa bagian dari buku ini tentunya sangat menggugah dan benar-benar membuat kita merasakan bahwa perempuan itu istimewa loh. Sama halnya dengan penulis sendiri, beliau orang yang istimewa, bagiku sangat istimewa. Buku pertama ini diterbitkan oleh penerbit Quanta (2015).

Buku kedua juga diterbitkan Quanta dengan judul "Jika Esok Tak Ada Lagi" (2016)

Buku ketiga kumpulan puisi "Kau Bertanya Mengapa Aku Bergincu" (Penerbit Erka Publishing, 2016). Buku keempat kumpulan Cerpen "Seseorang Mencuri Ingatan Bapak" (Erka Publishing, 2018).

Nah di 2019 kemarin, beliau juga nulis buku motivasi Islami yang best seller loh, judulnya "Tenanglah Ada Allah" (Quanta). Buku ini tentunya perlu banget kamu pesen dan baca ya, jika kamu sedang ingin merasakan ada Tuhan dalam kehidupanmu, saat sedih dan gundahmu, ketika putus asa dalam hal-hal yang kamu inginkan. Pokoknya keren banget deh.

Ada satu lagi loh, kabarnya dalam waktu dekat buku terbaru beliau akan segera terbit. Nantikan ya, ntar kalau udah terbit, aku bakal review deh. Serius.

Untuk berkenalan dengan beliau, bisa melalui akun berikut ini:

📷 Instagram: yusrina_sri
Fb: Yusrina Sri
Hp/Wa:  0821-6957-6894


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter