Jangan Khawatir, Rezeki Allah Yang Atur

2 komentar


Author: Acet Asrival

Setiap makhluk,, pasti dijamin rezeki oleh-Nya. Itu sudah menjadi ketentuan Allah. Hal ini digambarkan dalam Surah Hud ayat 6:


وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا  ۚ كُلٌّ فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."

Bila direnungkan lebih dalam, firman Allah ini menjelaskan tiga hal pokok terkait rezeki. Pertama, setiap makhluk yang mau berusaha mencari rezeki itu, maka Allah akan turunkan sesuai kadar masing-masing. Kedua, setiap rezeki mempunyai tempat kediamannya masing-masing. Misalnya rezeki cicak adalah hewan-hewan yang merayap di sekitarnya. Rezeki lebah di kumpulan bunga-bunga. Rezeki manusia di tempat ia hidup dan bermukim. Ketiga, rezeki itu juga mempunyai tempat penyimpanan. Simpanan rezeki itu Allah berikan sesuai kebutuhan masing-masing makhluk dan itu tidak akan habis selama makhluk itu masih hidup, sebelum ajal tiba.

Dari ayat ini, seharusnya manusia tidak meragukan lagi soal rezeki selama hidupnya. Yang perlu ia lakukan adalah berusaha dan mencari rezeki itu dengan cara yang halal. Jika ada manusia yang mencari rezeki di luar dari ketentuan Allah, berarti ia telah menyalahi hukum-hukum terkait rezeki itu, dan ia berada di jalan yang salah.
Ada sebagian manusia yang tak yakin bahwa rezeki itu dari Allah, sehingga ia pun mulai mencari dengan akalnya sendiri, egonya sendiri, nafsunya sendiri. Apakah itu halal dan baik untuk dirinya, atau justru dengan cara yang tidak baik, sehingga ia larut dalam kekeliruan itu.

Ada dua kisah hewan yang inspiratif tentang rezeki dan jaminan Allah pada hewan-hewan itu. Silakan renungkan:

Pertama tentang Burung Gagak:

Ada yang menarik dari kehidupan burung gagak. Burung itu kala masih kecil bernama Bughats, ketika sudah mulai besar (bertumbuh bulu) namanya berubah menjadi Gurab. Setelah melahirkan, induk Gagak meninggalkan Bughats di sarangnya. Induk gagak enggan mengakui kalau itu adalah anaknya. Sebab, menurut Gagak, Bughats sama sekali tak menyerupai dirinya (yang berbulu hitam) sedangkan anaknya yang baru lahir tanpa bulu dan berkulit putih. Meskipun pengakuan itu tak ada, Induk Gagak masih memantau Bughats dari kejauhan.

Bughats belum bisa apa-apa. Terbang tak bisa, cari makan apalagi. Tapi PenciptaNya Maha Adil, yang memenuhi rezeki makhluk-Nya. Dari tubuh Bughats memancar aroma yang mengundang selera kaum serangga dan ulat. Bughats bisa memakan binatang-binatang itu untuk bertahan hidup. Sampai masanya tiba, Bughats bertumbuh bulu dan berubah menjadi Gurab.

Ketika sudah menjadi Gurab, induk gagak pun mulai menyadari bahwa itu adalah anaknya. Induk Gagak pun mendekati Gurab dan menjaga Gurab serta mencari makanan untuk Gurab. Karena dari tubuh Gurab tak lagi mengeluarkan aroma yang membawa serangga padanya. Itulah skenario Allah untuk tiap-tiap makhluknya.

Mari sejenak kita renungkan firman Allah ini:

“Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan di dunia ini.” (QS. az-Zukhruf ayat 32)

Kedua tentang Lebah:

Dalam kitab حياۃ الحيوان (terj) disebutkan bahwa seekor Lebah untuk dapat menghasilkan satu tetas madu, ia harus mencicipi dua ratus ribu sari bunga. Ia terbang berkilo-kilo untuk menemukan bunga-bunga itu. Meskipun begitu berat perjuangan lebah, ia tetap menjalani takdirnya. Lebah tahu bahwa ia adalah makhluk istimewa yang Allah ciptakan untuk memberi manfaat kepada makhluk Allah yang lain (manusia).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di¹ rahimahullah berkata:

“Pada penciptaan lebah yang kecil ini, Allah memberikan ilham berupa bimbingan yang ajaib. Allah memberi kemudahan bagi lebah untuk menuju padang rumput dan taman kemudian kembali ke rumah mereka yang telah mereka rancang demikian bagusnya dengan petunjuk Allah.”²

Sebenarnya kita tak layak membandingkan dengan lebah, hanya saja kita perlu belajar dari kehidupan yang dilaluinya. Jika ingin menghasilkan sesuatu yang kita ingin untuk memberikan manfaat pada orang lain, maka perlu usaha yang besar dan kesungguhan. Ketika kita mempunyai impian yang besar, akan datang ujian yang serupa, tapi Allah tetap memberi kesanggupan sesuai dengan apa yang kita impikan. Terus berjuang dan tetap yakin bahwa Allah akan memberikan setetes madu dalam perjuangan itu.

Dari dua cerita ini, ad pelajaran penting yang bisa kita ambil dan aplikasikan dalam kehidupan. Tentang Burung Gagak, yakni bagaimana Allah menetapkan rezeki baginya. Meskipun waktu menjadi Bughats, ia tak bisa apa-apa, ditinggal induknya, tapi rezekinya Alllah jamin. Allah datangkan rezeki itu untuknya.

Dalam masa kini (wabah), mungkin kita tak bisa berbuat banyak untuk mencari rezeki itu. Tapi percayalah, Allah akan berikan dengan caraNya, ketetapanNya, dan semua yang telah Allah sediakan untuk tiap-tiap makhlukNya. So, jangan pernah berpikir bahwa Allah meninggalkanmu. Allah pasti ada menyertaimu.

Dari cerita Lebah kita dapat mengambil pelajaran bahwa, setiap usaha akan menumui hasil. Kita berusaha mencari rezeki, Allah turunkan itu. Meskipun susah dan jauh, jangan pernah menyerah. Mungkin kita sedang mengimpikan sesuatu, menginginkan sesuatu, teruslah mencari dan menemukan. Pada akhirnya, apa yang kamu impikan akan benar-benar terwujud, selama masih tetap semangat dan tidak menyerah.

Dalam tulisan yang sederhana ini, cobalah renungkan lebih dalam.

Jika kini kamu lemah, bangkitlah.
Jika kini susah, bangkitlah.
Jika kini menderita, bangkitlah.

Ada Allah yang senantiasa memperhatikanmu dan memberikan yang terbaik untukmu, kini, nanti, dan selamanya.

(Padang, Juni 2020)


¹ Ulama Ahlussunah, Penulis Kitab Tafsir Taisir Karimirrahman
    fi Tafsiri Kalamil Mannan
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

2 komentar

  1. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah burung gagak dan lebah.
    Allah tidak akan menyia-nyiakan makhluk ciptaannya selagi kita mau berusaha untuk bertahan hidup.
    Syukuri dan jangan pernah mengeluh. Setidaknya kita dapat berkaca pada orang-orang yang tidak beruntung dengan kita.

    BalasHapus
  2. Benar sekali Kakak. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter