Jika Hidup Terasa Sempit

2 komentar
Jika Hidup Sempit
 

Tak dapat disangkal, semua orang menyetujui bahwa, di (2020) ini, semua orang merasakan dampak dari pandemi covid-19. Siapapun itu, orang kaya atau pun orang biasa, semuanya mengalami tekor dalam kehidupannya. Hanya saja tentunya, ada yang benar-benar merasakan kesulitan atau sekadar menurunnya pendapatan dalam bentuk materi dan kebebasan.

Dalam masa-masa sulit seperti kini, banyak orang yang mengeluh dalam menjalankan kehidupannya. Keluhan itu beragam redaksi. Ada yang mengeluh tentang keuangan yang semakin menipis, pekerjaan yang dirumahkan, income tersumbat bahkan tak mendapatkan sedikitpun penghasilan. Ada yang mengeluh tentang sulitnya akses untuk keluar rumah, gerak terbatas, kejenuhan dikurung di rumah sendiri tanpa ada yang dapat diperbuat sama sekali. Parahnya, sebagian dari orang-orang yang terdampak wabah ini merasakan betul hari-hari yang sulit itu. Mereka kelaparan, menahan sakit, menghibur cacing dalam perut yang meronta minta makan.

Itulah sebagian keluhan yang menyerang fisik maupun psikis manusia dalam menghadapi pandemi ini. Hidup terasa sempit. Hari-hari membosankan. Tak ada ruang untuk berekspresi. Tak ada ruang untuk melepaskan diri dari belenggu yang menyita kebahagian itu. Dalam masa-masa sulit demikian, tak ada jalan lain kecuali menerimanya dengan lapang dada atau mencari jalan untuk keluar dari kesulitan itu. Menerima dengan lapang dada tentu tidak semua orang mampu. Mereka akhirnya mencoba untuk menembus sekat-sekat yang menghalangi usaha mereka, aktivitas mereka, pekerjaannya, dan tempat untuk menumpahkan kejenuhan yang selama ini terkungkung dalam rumah.

Tak dapat disangkal, perilaku manusia pun beragam dalam merespon pandemi global itu. Ada yang sabar walau bagaimanapun keadaannya. Ada yang meronta meskipun cemas menghampirinya. Ada yang mengatakan terserah untuk hal-hal yang membuat mereka tak dapat menemukan kehidupan seperti biasanya. Ya, hidup memang pilihan masing-masing. Setiap orang bertanggungjawab atas apa yang mereka putuskan. Tak dapat dibebankan pada orang lain, harus siap mengambil resiko dan siap untuk menanggungnya.

Baiklah... Itu urusan masing-masing individu. Kita tak dapat pula mengatur dan memaksa mereka. Dalam hal ini, kita hanya mencoba manut pada keadaan. Jika memang sempit hidup ini, kelak ia akan lapang kembali. Jika memang susah hari-hari, nanti ia bakal mudah dijalani. Kadang, musibah akan menjadi berkah. Kesedihan menjadi tawa, kehilangan akan diganti dengan yang lebih baik.

Jika hidup terasa sempi, yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Di dunia ini tak ada yang kekal. Kesedihan dan kebahagiaan adalah dua kaki yang melangkah dalam perjalanan. Satu kaki mengantarkanmu pada kesedihan, satu lagi membawamu pada kebahagiaan. Hidup berputar pada dua hal itu yang mencakup di dalamnya banyak peristiwa dan kejadian. Pahit atau pun manis, hidup terus dijalani.

Jika hidupmu terasa sempit, masih banyak orang-orang yang lebih sulit darimu. Jika hidup terasa tak bermakna, banyak orang yang merasakan nestapa melebihi dirimu.

Beberapa hari lalu, seseorang mengirim saya pesan kemudian saya balas. Kami pun melanjutkan untuk berbicara via telepon. Ia adalah kawan akrab saya. Saya tahu betul tentangnya. Seseorang yang selama ini terlihat bahagia dengan sesuatu yang melekat padanya.

Dalam pembicaraan itu, ia menceritakan bahwa dirinya kini susah. Pekerjaan tak ada akibat dijalankan lockdown. Usahanya menurun. Hutang melilit pinggang. Hanya ada dua pilihan, jika anak bini masih ingin dinafkahi, maka solusinya sebagian investasi harus digadaikan atau dijual. Ia pun menjual barang-barang miliknya untuk menutupi utang dan keperluan keluarganya. Apa boleh dikata, jika memang susah terima saja dulu. Jika memang sempit jalani saja dulu. Mau apalagi coba? Meronta? pada siapa pula kesal itu dimuarakan?

Saya mencoba berdamai dengan keadaan ini. Sebenarnya saya ingin pula menulis keluhan-keluhan saya di tulisan ini. Tapi untuk apa? Berharap ada yang peduli? Mustahil. Hidup di masa seperti sekarang yang dapat diandalkan adalah kekuatan diri sendiri dalam menghadapinya. Maka saya urung untuk mengeluh. Saya mencoba berdamai dan menerima semua itu. Sampai dimanakah masa-masa itu akan berakhir? Hanya Tuhan yang tahu sampai kapan.

Jika hidu terasa sempit, cobalah untuk baik-baik saja. Teyap semangat dan berpikir positif. Lakukan sesuatu yang dapat menghiburmu, mengeluarkanmu dari kesulitan itu. Teruslah berusaha. Bahwa jika kamu menyerah, itu tak akan membuatmu menjadi lebih baik. Kamu harus tetap optimis, Tuhan akan memperbaiki keadaan dirimu dan keadaan dunia ini dengan cara-Nya sendiri. Semua akan baik-baik saja.

Jika hidupmu terasa sempit, ingatlah nikmat-nikmat Allah selama ini yang diberikanNya untukmu, maka hatimu pun akan terasa lapang.

Acet Asrival
(Padang, 9 Juni 2020)
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

2 komentar

  1. Tulisan yang unik, Penuh inspirasi dari ketirnya kehidupan

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter