Jika Kamu Tersesat Di Pulau Lain


Jika Kamu Tersesat di Pulau Lain
Oleh: Acet Asrival


Seperti judul, seharusnya inu puisi, namun tidak demikian. Aku tulis saja kemana arah tulisan ini. Ini adalah persoalan kehidupan yang mana sebagian orang memang terdampar di pulau asing yang tak seperti rute yang ia inginkan. Betapa banyak orang tersesat dari rute perjalanannya hingga terdampar di pulau lain.

Sebut saja ia semestinya berprofesi A, padahal dulunya ia bercita-cita profesi B. Dulu ia ingin menjalani hidup dengan F, namun takdir membawanya pada G. Ia memilih bekerja di tempat J tapi ia diterima di tempat K. Begitu juga dulunya ia ingin kuliah di kampus H dengan jurusan X, tapi ia justru kuliah di kampus I jurusan Y. Mereka terdampar di pulau lain. Mereka mesti menerimanya.

Mulanya, orang-orang yang terdampar itu tentu tidak akan menerimanya dengan sungguh-sungguh. Awalnya mereka menjalani dengan setengah hati. Ia masih mengutuki nasib yang membawanya pada jalan lain. Namun semesta memintanya demikian.

Dalam sebuah artikel Kompasiana, seorang psikolog menulis tentang misi jiwa melalui alam semesta. Dimana, seseorang dituntut untuk melakukan sesuatu. Mau atau tidak, suka atau bukan, ia dipaksa untuk menjalani hari-hari yang berbeda dari apa yang ia inginkan. Bukan karena ia tak bisa berlari dari kenyataan itu. Bukan pula karena ia tak menemukan jalan lain. Namun semesta meminta demikian. Membiarkan ia hidup di jalan lain dengan mengambil pelajaran-pelajaran penting untuk ia renungkan.

Bila kamu bertanya pada teman-temanmu, mereka punya kisah terdampar masing-masing. Mereka pernah tersesat dalam perjalanannya. Setiap kita memang pernah tersesat dan terdampar di pulau lain. Namun sampai sekarang kita justru menikmatinya.

Suatu ketika, di sebuah perjalanan, seseorang berencana mengunjungi sebuah pulau. Di sana ia ingin memulai kehidupan baru, dengan orang-orang baru, dengan pekerjaan baru. Ia pun mengayuh sampannya menuju pulau itu. Dalam perjalanan, ia membayangkan tentang pulau yang akan ia tempati itu. Ia sudah berbekal seperlunya. Ia pun menikmati pelayaran dengan bahagia.

Setelah cukup jauh berlayar, tiba-tiba sampannya diterjang badai. Sampan itu pecah dua. Satu dibawa gelombang kian kemari. Satunya dibawa ombak ketepian. Ia diselamatkan dari maut dengan menompang tangan di pecahan yang menuju tepian itu. Ia selamat dari maut. Ia diuntungkan oleh keadaan. Nasibnya tidak tenggelam, dirinya masih punya harapan untuk hidup. Namun ia tidak sampai pada tujuan. Ia tersesat di pulau lain. Pulau yang betul-betul asing dalam rencananya itu.

Mulanya, ia berpikir lebih baik tenggelam daripada hidup terdampar di pulau asing yang sepi. Tak ada kehidupan, tak ada orang-orang. Ia hanya sendiri. Melewati hari-hari yang kian tak jelas itu. Tapi mau tak mau ia dipaksa untuk berdamai dengan keadaan. Ia jalani hari-hari dengan semangat untuk kembali menemukan kehidupannya. Ia membangun rumah kecil dari kayu, ia tanami tumbuhan, ia bangun sebuah pemukiman yang indah. Seiring waktu berjalan, dari tahun ke tahun, tempat yang ia huni itu kini menjadi destina yang ramai dikunjungi wisatawan. Ia pun mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan menjadi orang penting di pulau itu. Banyak wartawan yang meliput berita tentang kisah pertama kali ia terdampar di pulau itu, tentang pengalamannya bertahan hidup, dan yakin untuk membangun daerah di pulau terpencil itu. Dialah Alexander yang membangun kota Alexandria di Mesir sana. Jika kau mengunjungi kota itu, tentu ada sebuah pemandangan yang eksotik di tepian pantai Alexandria. Di sana kapal-kapal berlabuh. Anak-anak menunggu kepulangan ayahnya bernelayan. Wanita-wanita cantik berselfi dengan latar kapal-kapal dan senja. Dan para influencer bikin vlog di sana. Sungguh indah. Aku punya niat untuk membuat novel berlatar Alexandria. Tapi sayapku belum bisa mengantarku ke sana. Suatu saat nanti, itu targetku untuk berkunjung dan napak tilas ke bumi para nabi.


Selesai membaca kisah itu, aku merenung dan berpikir. Aku adalah orang yang seringkali tersesat dan terdampar di pulau lain. Sungguh, hidup yang aku jalani kini tidak seperti keinginanku waktu remaja dulu. Dulu aku ingin sekali menjadi pelaut. Aku ingin seperti Monkey D Luffy, bisa berpetualang dengan teman-teman mengelilingi dunia dan menguasai akses kelautan. Atau aku terobsesi oleh Ibnu Batutah untuk berlayar mengelilingi dunia dan mengeksplorasi perjalanan dari satu daerah ke daerah lain. Tapi aku tersesat ke sebuah pesantren dan menetap di sana. Terkurung bersama para santri dan menikmati senja dari balik tirai asrama. Dari situ aku bisa mengaji dan belajar naik podium.

Sampai kini pun aku masih tersesat di pulau lain. Kehidupan yang aku jalani kini tak seperti yang aku impikan sepuluh tahun lalu. Apa boleh buat, aku harus menikmatinya. Tuhan mengantarkan hamba-Nya pada jalan takdir yang sesuai dengan maslahat kehidupannya.

Begitu juga orang-orang yang aku kenal, mereka banyak yang tersesat. Kehidupan mereka lebih baik, sejahtera dan bahagia. itulah alasannya saya menulis ini, agar kamu yang merasa asing menjalani hari-hari kini yang terasa asing, percayalah, suatu saat nanti kamu akan menikmatinya. Jalani saja dulu, sebab pilihan Tuhan pasti yang terbaik.

Dua hari lalu, seorang teman jauh mengirim pesan sekaligus undangan pernikahan. Katanya, aku tersesat kawan. Aku tak menyangka akan jatuh cinta dan menikahi perempuan itu, tapi aku sadar bahwa inilah jalan hidupku, inilah cinta, inilah realita. Aku balas dengan emoticon senyum dan mengatakan, kamu benar dan nikmatilah dengan bahagia.

Jika kamu tersesat dan terdampar di pulau lain, itu adalah kehidupan yang harus kamu nikmati. Cobalah rasakan.


(Padang, 10 Juni 2020)

Sumber gambar: 
https://pin.it/6DMf9L3
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter