Jika Kamu 'Terusir'



"Terusir"

Aku ingin mengajakmu untuk menyerap kata itu, lalu masukkan dalam kepalamu, kemudian resapilah dalam hatimu. Rasakanlah..., seandainya kata-kata itu benar-benar terjadi dalam hidupmu kini. Cobalah sejenak renungkan.

*

Terusir

Bunyinya demikian. Kedengaran amat tragis. Ibarat di medan tempur, tubuh penuh luka, simbah darah, dan napas satu-satu. Bayangkan, kala tubuhmu tersungkur di tanah berdebu, kau diseret pasukan berkuda, lalu tubuhmu dilemparkan dalam jurang; terusir. Agaknya demikian. Sadis memang.

Tapi, seseorang berkata, semuanya akan baik-baik saja. Itu hanyalah sebuah fragmen kehidupan yang mengajarkan bahwa tak ada zona yang nyaman untuk bertumbuh. Tidak. Tidak demikian untuk terus memperjuangkan nilai-nilai dalam sebuah impian itu. Kau harus siap terlempar jauh dari kenyamanan. Kau harus dibenturkan dalam kesakitan. Kau juga mesti merasakan sesuatu yang berat.

*

Dalam tulisan kali ini, saya memulai dengan keyword 'Terusir', betapa banyak kata itu dirasakan orang-orang. Terusir menjadi kata yang mengerikan. Jika kamu mengalaminya, tentu itu taklah mudah untuk diterima. Secara psikologis, hati dan pikiran kita tidak akan benar-benar mampu untuk menerima kenyataan itu. Saat-saat kita sudah merasa nyaman dengan suatu keadaan atau kondisi, kala itu pula kita dipaksa menjauh dari keadaan tersebut.

Mungkin kamu pernah terusir dari pekerjaan. Ketika satu-satunya penopang hidup adalah di pekerjaan itu. Kamu mencari nafkah untuk keluarga dengan pekerjaan itu. Kamu mencukupi kebutuhan hidupmu dengan pekerjaan itu. Sedangkan kini kamu terusir dari pekerjaan itu. Tentunya, itu sangat menekan hatimu dan membuat pikiranmu kacau sejadi-jadinya.

Di lain keadaan, barangkali kamu juga pernah terusir dari suatu komunitas. Kamu tumbuh dan berkembang di dalamnya. Kamu belajar dan menggali potensimu di sana. Kamu sungguh-sungguh menemukan identitas dirimu di komunitas itu. Apakah sekolah tempatmu belajar. Ataukah kampus tempatmu mengembangkan potensi. Mungkin juga di lingkungan tempat tinggal dan mempunyai kontribusi dalam lingkungan sosialmu. Tiba-tiba kamu terusir darinya. Kamu tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjalaninya. Hal demikian tentulah amat berat. Bahwa kamu pasti akan merasakan keterasingan dan keterpurukan. Kamu tak lagi aktif secara sosial dan peranmu pun terbatas. Keadaanmu benar-benar kacau, Kawan. Hidup terasa tak berguna. Kamu jadi mikir, apa salahmu, apa yang telah kamu lakukan, sehingga kamu merasa terusir dari komunitas itu.

Keadaan yang lain yang sejalan dengan itu, kamu mungkin pernah terusir dari sebuah harapan pada seseorang. Kamu menginginkannya untuk menjadi teman hidup. Kamu berusaha untuk bersamanya. Setelah cukup lama kamu berjuang, akhirnya kamu terusir dari cinta itu. Kamu disuruh pergi untuk menemukan yang terbaik. Shiit kan? Kamu sudah capek-capek berjuang, menunggu, dan berkorban apa saja, kemudian orang itu mengusirmu dalam hidupnya. Kamu dicampakkan rasa, kamu ditampar dilema, kamu tak punya lagi muara kasih yang menenangkan. Hidup terasa mengerikan dengan hari-hari yang sunyi senyap. Oh, terusir dari hati tempatmu berteduh dan menumpahkan segala rasamu.

Jika memang sudah demikian, apa boleh dikata lagi. Kamu terusir. Itu sangat menyedihkan memang. Tak dapat ditolak lagi, tapi hidup akan terus berlanjut. Perjalanan akan terus kau tempuh. Suka atau tidak, kita terpaksa untuk pergi dan merelakan semua yang terjadi.

*

Ya sudah. Jika kamu telah membayangkan kata tersebut atau kamu sudah/ sedang merasakannya, kini waktu yang baik untukmu memahaminya. Bahwa tidak selamanya terusir itu buruk. Tidak. Ada banyak keterusiran yang dialami orang justru mengantarkannya menjadi lebih baik. Membawanya lebih kaya dan menjadikannya terkenal. Saya punya beberapa kisah tentang itu. Di lain tulisan aku akan mengulasnya. Percayalah, di balik terusir itu ada kehidupan lebih baik yang sedang menunggumu.

Setelah kamu merasakan betapa sedihnya terusir dari suatu keadaan, nanti kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang menerimamu dengan kelebihan dan kekuranganmu. Kamu juga akan menjadi kreatif dengan skill yang kamu punya, kamu akan menemukan komunitas terbaik yang lebih menghargai keberadaanmu dan kamu akan tumbuh berkembang sesuai keinginanmu. Jalani dengan lapang, ambil hikmah dan peluang.

*
Terusir. Kedengarannya saja yang mengerikan, sebenarnya kamu bisa melewatinya. Jalani saja, jika memang sudah waktunya kamu terusir dari suatu hal. Hidup memang seperti itu kadangkalanya. Yang penting tetap semangat dan mencari yang terbaik.

Untuk mencapai sesuatu, kita harus mencoba banyak hal dan merasakan banyak peristiwa.


Acet Asrival
(Marapalam, 7/6/2020)
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter