Membaca Pikiran Sendiri



Dudukku pagi ini agak sedikit loyo. Biasanya, aku tidak menyandarkan punggung di kursi, tapi kali ini aku benar-benar ingin melakukannya lebih lama sambil mengetik beberapa keyword untuk aku tulis nantinya.

Pagi ini memang, badanku sedikit kurang fit. Semalam tidur hanya tiga jam saja. Itu pun tak nyenyak karena dua-tiga kali tersentak. Aku tidak menggigau tapi temanku mengatakan demikian. Igauan yang mungkin saja terjadi tanpa sadarku adalah tentang seseorang yang belum tuntas aku selesaikan urusan dengannya. Sampai hari ini aku tak tahu bedanya mimpi dengan igauan. Bagiku keduanya itu hanyalah tentang keadaan tidur yang tidak sempurna, hal-hal yang belum tuntas terbawa ketika tidur.

Aku membaca pikiranku sendiri. Apa yang benar-benar aku cari dalam hidup yang singkat ini. Apa yang seringkali aku pikirkan dalam perjalanan ini. Apa yang betul-betul membuat aku bahagia. Aku membacanya seperti mengulang kisah-kisah lama yang aku jalani dari kecil hingga kini. Setiap fase kehidupan itu, aku menyadari bahwa banyak hal yang aku lakukan penuh kekurangan. Meskipun begitu, di lain hal aku juga telah banyak melakukan yang terbaik untuk diriku dan orang-orang dekat. Semuanya seimbang, hanya saja ada yang berat ke atas dan turun ke bawah. Waktu menguji keadaan itu dengan keberuntungan atau ketidakberuntungan.

Dalam pikiranku-- yang sebelumnya payah-- (kamu bisa baca di tulisan sebelumnya, link di bawah) aku menjadi berbeda dikarena tumbuh dalam kritik dan ketimpangan emosional. Sejujurnya, dari masa kecil, aku diajarkan untuk kuat dalam berbagai persoalan kehidupan. Aku tidak boleh bergantung pada orang lain, tak boleh berharap, tak boleh menangis hanya karena keinginanku tak kumiliki. Aku tumbuh dalam kekacauan emosi dan kritik sumbing. Karena itu, aku dengan dunia introvert-ku seringkali berdialog dengan diri sendiri. Tak pernah tuntas dan sampai kini masih demikian. Hanya saja, pengalaman hidup mampu membuatku memunculkan nilai-nilai baru yang lebih realistis dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada.

Semisal begini, jika dulu aku tak memiliki suatu barang, aku memang tidak bisa memaksakannya, tapi aku akan terpikir sekian lama. Bahwa nilai yang aku kandung kala itu adalah sebuah penyesalan atas ketidaksiapan diri dalam menerima kenyataan. Dan perubahan itu terjadi ketika aku mengakhiri masa remaja, untuk pertama kali aku tidak lagi menyesali, bahwa aku harus berusaha dengan daya dan upaya yang ada. Saat itu aku berpikir, aku bukan lagi anak-remaja yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah melewati masa remaja yang payah, yang tak dapat melakukan lebih banyak dalam hidup dan kehidupan ini.

Aku merantau cukup jauh. Melewati beberapa provinsi. Menyebrangi pulau dan meninggalkan banyak perkampungan. Itulah titik balik pertama dalam hidupku untuk mencari nilai-nilai baru dalam hidup. Bahwa aku bertumbuh dan berani melewati realita kehidupan. Aku merantau membawa segala kenangan, menghapus setiap duka, dan memulai lembaran baru. Lembaran baru yang akan memuat cerita-cerita pilu. Bedanya, aku tak lagi menyesal.

Apalagi yang tidak dirasakan oleh anak rantau? Semua sudah dirasakan. Ini bukan rantau yang disubsidi orangtua atau dibiayai pemerintah. Tak sama halnya dengan rantau-rantau para pelajar yang difasilitasi lengkap oleh orangtuanya. Mulai dari biaya kostan, kendaraan, perkuliahan, hingga sabun mandi pun dimasukkan dalam daftar belanja-- di luar jajan kuliah dan nongkrong di kafe-kafe mewah. Rantauku, payah kawan. Aku bekerja di trotoar Bandung Elektronik Centre (BEC) sedangkan tempat tinggal di daerah Pasundan. Sebelum ada ojek online, aku naik angkot dua kali ke sana dengan meneteng dan menyandang satu ransel berat, satu kardus, sebuah koper, semuanya berisi barang dagangan. Berangkat pagi pulang malam. Bongkar pasang lapak dan merayu orang-orang lewat. Rayuan yang kadang dianggap sinis, padahal aku hanya menawarkan barang-barang dengan cara santun dengan logat Sunda. "Sok atuh Teteh" Atau "Punten A," Aih aku rindu bercakap gaya Sunda dengan intonasi nada yang sedikit aku paksakan.

Semua sudah hampir sepuluh tahun, kawan. Satu dekade telah berlalu. Dan kehidupan itu memang ibarat roda pedati, (naik-turun) tergantung situasi dan kondisi. Aku pernah naik, saat-saat semua inginku tercapai. Aku sering di bawah, kala keterbatasan itu kembali ada. Seperti sekarang inilah, aku mengulang titik balik yang kesekian kali. Tapi, sungguh, nilai-nilai itu bertumbuh. Semisalnya, jika dulu aku terobsesi untuk memiliki sesuatu, kemudian mati-matian mencapainya, kini aku memilih tenang dan menunggu waktunya datang. Sebab kini kusadari, ada hal-hal yang tak dapat dipaksakan oleh manusia, meskipun ia sudah mengusahakannya. Ada batas-batas tertentu yang tak dapat dilewati manusia dan, itulah peran Tuhan untuk membuat cerita baru dalam hidup manusia.

Aku membaca pikiran sendiri. Pikiran yang masih perlu aku koreksi dan perbaiki. Aku kira, menjadi diri sendiri itu adalah kepuasan dan kebebasan, namun tidak selalu begitu. Kemarin, seseorang mengingatkanku, belakangan beberapa orang mengingatkan juga hal serupa, bahwa ada ranah-ranah yang perlu dimasuki orang kain dalam pikiran kita agar tidak bias dan masih ada keseimbangan antara nilai-nilai yang aku kandung dengan penilaian orang-orang tentangku. Kita harus senantiasa mau berkaca, untuk tahu ada noda di wajah kita atau kusut-masai di wajah itu.

Bacalah pikiran sendiri dan lihatlah pandangan orang lain. Kamu akan menemukan nilai-nilai baru untuk selanjutnya.

Aku (Mungkin) Berbeda

Acet Asrival
[Padang, 15 Juni 2020]

📷 https://pin.it/3VSNGqW
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter