Mungkin Inilah Jalanku

Jika kamu membaca tulisan di blog ini pada label 'Catatan' dengan judul 'Aku (Mungkin) Berbeda' 1 dan 2, kamu akan tahu alasanku mengapa aku terlihat berbeda. Jika kamu setuju demikian, bacalah tulisan ini. Jika tidak, back atau close kursor gawaimu dan beralihlah membaca yang lebih bermanfaat.

Aku memutuskan untuk serius membangun blog Beranda Edukasi ini. Alasannya sederhana. Aku tersesat di sini, kala aku menginginkan hal lain dalam perjalanan menulis. Aku juga tidak ingin terusir dari kenyamanan yang selama ini aku tempati. Berdiam di tempat orang, lambat-laun akan mengalami keterusiran. Selama kita mampu menyenangkan hati orang, kita bisa dihargai dan dipakai tenaga dan pikiran. Jika sedikit saja kita membelok, siap-siap saja untuk terusir dari tempat itu, hati itu, dan naungan itu.

Alasan lain, di blog pribadi yang aku kelola sendiri, tentunya aku tidak akan mengalami hal naas seperti yang sudah-sudah. Aku bebas berekspresi di ruang ini. Aku bisa menulis apa saja. Aku tidak lagi peduli jika naskahku ditolak penerbit atau media massa. Aku tidak lagi membagikan tulisan-tulisan di media sosial yang hanya akan jadi spam saja bagi mereka. Mereka punya hak untuk tidak membaca, karena memang kebanyakan teman-teman di media sosialku tak suka membaca. Atau mungkin tulisanku tak dapat mengetuk hati mereka. Untuk itulah aku membangun blog ini.

Sebenarnya, aku menulis sudah cukup lama. Teman-teman yang mengenalku sejak awal dulu tentu tahu perjalanan yang aku tempuh. Tapi aku tidak benar-benar serius. Aku tak punya rencana sejauh ini. Aku hanya menyalurkan hobi dan kepuasaan saja. Aku menulis untuk status-status media sosial. Meskipun dulu, tiga tahun pertama, tulisan-tulisanku laku di beberapa koran, website, dan antologi buku-buku keren yang sebenarnya biasa saja. Atau memenangkan lomba menulis setingkat kelurahan, hehe. Aku pernah mencoba itu. Tapi aku sempat vakum dan mengabaikannya. Aku terjebak dalam rutinitas yang menghabiskan hari-hari. Aku bekerja dan berkuliah. Selepas itu ngajar anak-anak ngaji di masjid dan mengomandoi kegiatan ibadah di masjid tempat aku menetap selama kuliah. Jadi ya, salahku juga. Aku tak berani mengambil jalan untuk fokus menulis. Aku ingin memberikan dua ijazah untuk kedua orangtuaku. Aku selesaikan kuliah di awal tahun 2019 lalu. Aku berikan ijazah itu sebagai tanda bahwa aku bukan anak bandel yang dulunya suka kabur dari sekolah. Tapi orang-orang tetap mengatakan aku bandel.

Dua pekan lalu, ada seorang kenalan di Facebook, ia meninjau blog ini dan berkenan mendesain blog ini. Aku terhura eh terharu dan berterima kasih padanya. Seseorang yang tak pernah aku lihat wujudnya di dunia nyata atau maya. Identitas yang aku tahu hanyalah poto profil gambar anak kunci yang melekat di sarangnya. Jika boleh berfilosofi, itu menandakan seseorang yang hendak membuka rumah kesuksesannya. Semoga saja begitu, aku tak peduli. Yang aku kenal dia orangnya baik dan mungkin kasihan dengan orang sepertiku. Di lain waktu, aku ingin membalas kebaikannya. Tampilan di blog ini, itu dia yang mendesain. Aku panggil dia dengan sebutan 'Abang' yang mungkin saja dia sudah setara guruku di waktu sekolah dulu. Entahlah.

Untuk tahap awal, aku menulis dari tulisan-tulisan yang sudah aku post di medsos. Aku ulang kembali untuk konten blog sedikit lebih rapi dan panjang. Aku benar-benar berjanji, kali ini akan konsisten mengembangkan blog ini. Selama otakku masih bisa mikir dan jariku masih bisa menekan tuts gawaiku, aku akan menulis saban hari di sini. Blog ini seperti rumah yang sedang aku bangun. Bahannya adalah tulisan nyeleneh yang aku susun seperti bata dan semen. Pondasinya adalah keyakinan. Atapnya adalah kebebasan. Dan dinding-dinding di rumah ini adalah pecahan kenangan yang aku susun kembali agar tidak berantakan. Di rumah ini, kelak, aku akan merawat banyak kenangan. Ada tamu-tamu yang datang membawa cerita-cerita mereka, atau melepas penat di berandanya.

Aku sempat berpikir dan menawarkan pada beberapa orang kenalan yang juga menulis. Aku minta sedikit tulisan mereka. Ada lima orang yang aku tawarkan. Tujuan pertama tentunya mengeratkan pertemanan, kedua meminta dukungan, ketiga aku belum memikirkannya. Seorang teman seperjuangan menulis aku sampaikan. Ia akan mengirimkan, katanya. Tapi aku tidak berharap. Sebab, tulisannya itu menurutku bukan di beranda ini hinggapnya. Tulisannya lebih berharga daripada rumah gubuk yang hendak jadi istana ini. Aku tidak akan mengulang lagi, namun jika ia benar-benar berkenan, aku akan mempublikasikannya dengan rasa terima kasih.

Beberapa hari belakangan, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa. Awalnya aku tahu ia seorang mahasiswa, ternyata ia juga guru dan ibu rumahtangga. Kami berdiskusi dan berbagi pengalaman. Tak disangka, kami pernah satu momen di perlombaan MTQ Sumbar tahun 2015 silam. Bayangkan, sudah 5 tahun baru bisa berkenalan dan bercerita. Dia orangnya welcome. Ketika aku menawarkan atau meminta tulisannya untuk dipost di blog ini, ia langsung kirim dan aku post segera. Dia baik sekali. Suatu saat, aku ingin membalas kebaikannya.

Ada juga dua orang adikku, yang aku tawarkan untuk menulis di blog ini, yang satunya sibuk, yang satunya puyeng mau nulis apa. Aku ketawa saja. Mungkin dia segan atau malu, atau memang sudah tak lagi menulis. Sebenarnya, aku ingin mereka menulis, maka aku tawarkan agar tulisannya mengembara. Tapi sudahlah.

Terakhir, aku punya teman Facebook yang suka menulis di wall-nya. Aku tawarkan pula. Ia akan mengirimkan dalam waktu dekat. Aku suka dengan gaya tulisannya, untuk itu, agar kelak aku ingat tulisan orang itu, aku ingin mengabadikan sebuah tulisannya di blog ini. Mungkin saja ia akan melihat istana dalam tulisannya kelak. Aish, aku seperti berada di taman bunga dengan burung-burung kecil mematuk sisa-sisa kue orang-orang yang kekenyangan.

Setelah itu, aku rasa cukup. Aku tidak akan lagi menawarkan pada siapapun. Selama aku masih bisa menulis, aku akan membangun rumah ini menjadi istana. Atau setidaknya menjadi pendopo di pinggir sungai tempat orang-orang menghibur diri dan berselonjor menikmati kopi di musim hujan.

Baiklah... Ini blog hanyalah sebuah ruang untuk menjadi diri sendiri. Aku akan bermukim di sini untuk waktu yang belum aku pikirkan. Jika aku menemui seorang kekasih, aku akan mengajaknya di sini. Jika aku punya sahabat, aku akan mengajaknya di sini. Ini rumahku. Aku tidak lagi tersesat dan terusir. Aku bahagia, teman. Sungguh.

Oya, untuk orang-orang baik yang pernah aku kenal, aku berutang kebaikan pada kalian. Terima kasih banyak.

Dariku

Acet Asrival
Padang, 11 juni 2020


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter