Nilai-nilai Kehidupan

Dua hari ini, aku belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Dua kejadian yang beruntun menimpaku. Tapi aku tak lagi merasakan sakit dan kecewa, sebab, semuanya aku tahu adalah pelajaran dan, aku senantiasa ingin belajar, tumbuh dan percaya diri.

Pelajaran pertama adalah nilai kepercayaan. Bahwa kemampuan manusia untuk mempercayai orang lain terbatas sekali. Hanya terlihat zahir, namun dalam batin berkecamuk persepsi-persepsi miring tentang orang lain. Jika sesuatu yang mulanya dipercayakan itu tak lah tampak sesuai keinginan. Orang itu tak melihat lagi nilai-nilai baik dari orang lain. Hatinya keruh. Akhirnya ia memutuskan untuk meragukan dan berujung tak mau lagi percaya.

Dan hari kemarin, di pagi yang masih berkabut, kabar itu datang. Aku terpaksa meninggalkan rumah untuk berkelana mencari tempat. Mungkin Tuhan akan mengantarkanku ke suatu tempat yang terbaik agar aku segera merasakan kebahagiaan atau Tuhan akan membawaku ke tempat lain untuk terus belajar dan merasakan perjuangan. Apapun itu, aku tetap yakin bahwa Dia adalah Pengatur segala kejadian, Pencipta setiap nasib, dan Pemberi semua rasa; bahagia dan duka. Duhai, Tuhan, aku ingin kuat.

Pelajaran kedua adalah tentang nilai personal. Bahwa dalam diri setiap orang ada nilai-nilai baik, kompetensi, dan kreativitas. Itu tumbuh bersama perjalanan kehidupannya. Itu mengakar dalam pengalamannya. Ketika nilai personal itu direndahkan, ia seperti ombak yang dibawa angin kencang lalu menghempas di pesisir pantai. Aku adalah ombak yang baru saja menerjang orang-orang yang menganggap rendah nilai personal itu. Tapi aku tidak bermaksud demikian, hanya memberi sedikit tentang bagaimana cara menghormati, bagaimana agar menghargai, dan untuk mengenali karakter orang lain.

Pelajaran ketiga adalah tentang tekad dan standar nilai sebuah impian. Untuk pelajaran ini, aku harap kau renungkan bahwa, tiap orang punya keinginan, tekad, dan nilai perjuangan untuk sebuah impian. Tapi, semua itu tak abadi. Kalaupun ada, jarang terjadi. Misal, ketika seseorang menawarkan hatinya untukmu. Ia sudah sampaikan maksud terbaik, tujuan terbaik, dan ia berjuang dengan segenap kemampuannya. Ketika nilai itu terhambat dan nyaris tak ada jalan, ia akan kembali seperti biasa. Ia menyerah untuk memberitahumu tentang cinta dan harapan. Ia mengalah agar kamu menemukan nilai-nilai yang kamu impikan. Baginya, kegagalan untuk bersamamu adalah nilai perjuangan yang senantiasa ia kenang.
Mungkin kamu mempunyai nilai yang tidak ada pada dirinya. Standar nilai yang kamu buat tidak sebanding dengan dirinya yang terlihat biasa. Tapi aku ingin beritahu, bahwa ada orang-orang yang mengusahakan agar nilai-nilai itu menyatu.

Pelajaran keempat adalah tentang berharap pada Yang Kuasa. Pelajaran ini sudah aku kenal sejak lama. Ketika aku meninggalkan rumah di usia remaja untuk mencapai cita-citaku. Hingga puncaknya kurasakan kini di musim pandemi ini. Tapi aku ingin berharap pada Yang Kuasa agar diberi pemahaman tentang nilai sebuah harapan, kesabaran dalam keterbatasan, kekuatan dalam kesulitan, dan tentunya jalan keluar untuk terus tumbuh. Aku tak ingin layu seperti pokok kayu rontok dedaunannya. Atau ranting yang patah, batang yang rusak dimakan rayap. Aku ingin tumbuh dan menjadi tempat singgah orang-orang berteduh dalam perjalanannya.

Itulah alasanku untuk menulis. Menulis untuk mengobati luka, menemani sepi, dan menghibur orang-orang. Meskipun aku tahu, aku rapuh, tapi tulisan bisa membuatku bangkit dan terus berjuang.

Nilai-nilai kehidupan adalah lahan untuk kamu menanam kebaikan-kebaikan dan menikmati hidup untuk lebih bermanfaat.

Acet Asrival
(Padang, 7 Mei 2020)


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Lebih baru Terlama

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter