Obituari



Kehilangan Seseorang Dalam Hidupmu

Kemajuan media dan teknologi, menjadikan dunia terasa sekepal tangan, semua informasi dapat diakses dalam genggangaman. Kamu tinggal memainkan jemari di layar gawai dan mengklik beberapa tautan untuk menemukan kabar-kabar terbaru yang ditulis oleh pengguna media sosial. Semua orang tanpa diminta akan mengurai berita-berita di beranda sosialnya masing-masing. Apakah itu tentang kabar terupdate di negeri ini yang sedang diviralkan, ataukah tentang kehidupan pribadi yang menjadi konsumsi publik. Karena itu, untuk mengetahui keadaan seseorang, kamu bisa saja melihat berita-berita di media sosial miliknya, dari status yang ia buat atau dari curhatannya dalam kehidupan maya itu.

Akhir-akhir ini obituari menjamur di media sosial. Apakah obituari kehilangan batiniah atau kehilangan lahiriah. Dalam sebuah cuitan facebook Sastri Gotama, ia mengatakan, jika kehilangan lahiriah adalah ketika jiwa-jiwa orang tersayang pulang ke pangkuan Tuhan, maka kehilangan batiniah adalah kekasih-kekasih yang memilih pergi dari suatu hubungan. Ya, keduanya acapkali kita baca di media-media sosial akhir-akhir ini.

Dulu, ketika internet belum menjangkau daerah-daerah terpencil dan pinggiran, jika ingin tahu tentang keadaan suatu tempat, maka kita perlu menunggu kabar dari para wartawan dan jurnalis, itu pun bisa kita temukan di media cetak dan televisi hitam putih juga siaran radio di yang harus pake antena panjang. Namun kini, semenit setelah gempa terjadi, kita tahu sumbernya darimana dan berapa skala yang terjadi. Jika ingin tahu dimana terjadi keramaian, Makka sketika muncul di gadged-mu. Di zaman yang canggih inilah semua orang yang besentuhan dengan media bisa jadi wartawan, setiap pengguna medsos menjadi reporter dan jurnalis.

Maka jangan heran atau mengumpat jika ada-ada saja obituari yang kamu temukan di beranda medsosmu, apakah tentang seseorang yang kehilangan jiwa-jiwa terkasihnya, ataukah seseorang yang ditinggalkan kekasihnya. Dalam sehari, mungkin kamu akan menemukan berita kabar tentang itu. Menariknya, dalam tulisan ini, aku ingin menulis sedikit tentang "Jika Kamu Kehilangan Seseorang".

Kehilangan jiwa-jiwa terkasih yang berpulang pada Tuhan lebih dapat diterima akal dan hati. Sebab kepergian seseorang dari kehidupan dunia ini adalah realitas yang sudah kita saksikan dari kecil dan sudah ditanamkan pengertian untuk menerima kepergian itu. Meskipun semua orang tentu akan berkabung dengan kepergian orang-orang yang disayanginya itu. Kepergian atau kehilangan batiniah ini tidak terlalu lama untuk dirasakan, meskipun lama untuk diingat. Sedangkan kehilangan batiniah atau meniru Sastri di atas, yakni kepergian kekasih dari sebuah hubungan. Ketika hati terpatri untuk setia, hasrat untuk bersama, dan cinta untuk menua. Tiba-tiba memilih berhenti dan pergi dari hubungan itu. Kehilangan seperti ini amat berat dan biasanya berkabung cukup lama. Seseorang yang mengalaminya dan tak cukup kuat untuk bertahan, bisa mengakibatkan kehilangan semangat hidup dan harapan untuk tumbuh. Untuk waktu yang lama akan masih terpikir dan teringat, meskipun sudah mendapati pengganti yang lain. Namun rasa kehilangan itu menjadi sebuah memori permanen yang sulit untuk hilang.

Tuhan memang menghadirkan dua jenis kehilangan itu dalam kehidupan manusia. Agar, dari kejadian itu manusia mampu berpikir bahwa tak ada yang benar-benar menjamin untuk hati disandarkan, topangan tempat bergantung, dan naungan tempat berlindung. Sewaktu-waktu, semua itu akan pergi dengan caranya masing-masing. Apakah dalam bentuk obituari batiniah atau lahiriah. Dari kehilangan itu seharusnya manusia dapat mengambil pelajaran untuk perjalanan ke depannya. Bahwa tak ada yang benar-benar abadi, baik pergi atau ditinggalkan. Semuanya akan terjadi.

Seseorang yang pergi akan mengatakan dua hal padamu: pertama, kamu tidak baik bersamanya dan kedua, dia tidak baik untukmu.

Kita kerapkali salah kaprah dalam menerjemahkan kepergian orang dalam hidup kita. Kita pikir dia tidak punya perasaan. Dia justru punya perasaan. Mengapa? Karena perasaannya bukan untukmu. Lantas mengapa semula dia mempunyai perasaan padamu dan kamu merasakannya? Ketahuilah, perasaan itu ada dua bentuknya: pertama menetap (permanen) dan kedua singgah (temporal). Yang kedua inilah yang ia rasakan padamu. Ada seorang psikolog mengatakan dalam bentuk ketiga, yaitu di antara keduanya. Artinya kadang ia menetap kadang singgah. Untuk yang ketiga ini perlu kamu hindari. Betapa banyak orang-orang yang terjangkiti perasaan yang ketiga ini. Ia ragu dan sulit membuat keputusan.

Sudah saatnya kamu berpikir realistis mengenai hal di atas. Gini loh, ada atau tidaknya dia tidak akan mengubah apa-apa dalam hidupmu. Mengapa harus lemah?

Percayalah, tak semua kepergian itu buruk. Kadang ia akan menemukanmu dengan kehidupan yang lebih baik dengan seseorang yang tepat dalam hidupmu.

Acet Asrival
(Padang, 14 Juni, 2020)

📷 https://pin.it/42JQtMq

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter