Satu Kesalahan Menghapus Semua Kebaikan


Ukuran Tuhan berbeda dari ukuran manusia. Penilaian Tuhan juga demikian. Bahkan bila Tuhan mengampuni banyak kesalahan hamba-Nya dengan satu amal kebaikan, manusia justru menghapus semua kebaikan orang karena satu kesalahan padanya.

Begitulah bedanya Khalik dengan makhluk. Tapi, potensi ilahiah itu sudah diberikan Allah pada tiap manusia. Manusia bisa mewarisi nilai-nilai ilahiah itu dalam kehidupannya, dalam hubungannya dengan makhluk-makhluk lain di bumi ini. Jika seseorang mengasihi orang lain, ia telah mendapatkan sedikit dari Maha Kasihnya Allah. Jika manusia menolong orang lain, ia telah mendapatkan sedikit dari Maha Penolongnya Allah. Jika manusia mampu memaafkan kesalahan orang lain, maka ia mendapati sedikit dari Maha Pengampuannya Allah. Namun, bila ada manusia yang membenci orang lain karena satu kesalahan yang dilakukan padanya, sedangkan banyak kebaikan yang diberikan untuknya, sungguh darimana kah ia mendapatkan sifat itu?

Ia telah keluar dari nilai-nilai ilahiah yang telah ditancapkan dalam relung hatinya. Dulu, sebelum jasad dan ruh disatukan. Setiap manusia sudah menjalin komitmen dengan Allah, bahwa ia akan tunduk dan patuh terhadap semua perintah-perintah Allah. Ia akan menjadi hamba yang menjalankan nilai-nilai ilahiah itu dalam kehidupannya di muka bumi. Namun setelah ruh dan jasad disatukan, ada manusia yang lupa dengan janjinya, ada yang benar-benar menjalani misinya sebagai manusia di bumi ini. Maka itulah cikal bakal orang-orang baik dan orang-orang tak baik yang berada di bumi ini dengan berbagai kriterianya masing-masing.

Manusia dengan segala kekurangan dan kelemahan itu, memanglah berat perjuangannya dalam menjalani misi ilahiah di bumi ini. Manusia didampingi dua pengiring. Satu itulah setan dengan membujuk pada hal-hal buruk yang berpotensi dosa, satunya adalah malaikat yang mengilhamkan manusia pada hal-hal baik yang berpotensi pahala. Keduanya dalam sebuah hadist disebut dengan kata لمّۃ (lammah). Ada lammah dari setan ada lammah dari malaikat. Adapun lammah dari setan adalah فَإِعَادٍ با الشِّرِّ وَتَكْذِيبُ بِا الحَقّ (membisikkan kejahatan dan mendustakan kebenaran). Sedangkan lammah dari malaikat adalah فَإِعَادٍ بالخَيرِ وَتَصْديقُ باالحَقِّ (mengilhamkan kebaikan dan membenarkan yang haq). Kedua lammah ini beriring datang. Semisal, ketika seseorang (muslim) mendengarkan azan, maka dua lammah itu pun menyertainya. Ada dorongan untuk segera melaksanakan salat dan, ada bujukan untuk menunda bahkan meninggalkan salat. Lammah mana yang kuat maka itulah yang dilakukan manusia. Itulah yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah As-Syams ayat 8 Allah SWT berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوٰىهَا

"Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya."

kita kembali ke bagian akhir paragraf kedua dalam tulisan ini. Ketika manusia memandang sebuah kesalahan dan mengabaikan semua kebaikan dari orang lain, lalu membenci dan memusihinya, ketika itu hatinya sedang dikuasai lammah setan. Sehingga nilai-nilai baik itu hilang, kebaikan itu lenyap. Akhirnya manusia menanamkan akar-akar kebencian dalam dirinya yang berakibat rusaknya nilai-nilai ilahiah dalam kehidupannya.

Ada kisah menarik yang dituturkan Gaur Gopal dalam motivasinya, tentang sebuah kesalahan menghapus semua kebaikan orang lain. Simaklah dan renungkanlah, jadikanlah sebagai ibrah agar kita senantiasa terhindar dan dijauhi dari sifat tersebut.

Ada seorang raja mempunyai sepuluh anjing liar. Dia menggunakan anjing-anjing itu untuk menghukum - semua menteri kerajaan yang melakukan kesalahan.

Suatu hari, salah seorang menterinya melakukan kesalahan, raja marah dan memberikan perintah agar menteri itu dilemparkan ke anjing-anjing yang (sengaja dibuat) kelaparan.

Menteri itu memohon, "Yang Mulia, saya setia melayani Anda selama 10 tahun dan sebagai gantinya, apakah ini yang akan Anda lakukan untuk saya? Tetapi jika itu yang Anda inginkan? Baik! Anda boleh melempar saya ke anjing itu, tetapi sebelum melakukannya bisakah bantu saya selama 10 tahun dari pelayanan saya, bolehkah saya meminta Anda untuk memberi saya waktu 10 hari lagi, sebelum anjing merobek saya untuk menyenangkan. "

Raja setuju, dengan permintaan menteri tersebut. Sang menteri, kemudian mendekati Quard, yang bertugas merawat anjing-anjing itu dan meminta agar quard mengizinkannya merawat anjing-anjing itu, untuk beberapa hari ke depan. Atas perintah Raja, penjaga itu sedikit terkejut, mengapa seorang menteri, ingin melakukan ini? tetapi senang bahwa dia akan mendapatkan waktu istirahat, quard pun setuju.

Menteri memiliki pengalaman merawat binatang liar. Sebelumnya, ia bergabung dengan raja. Dan selama 10 hari berikutnya dia melayani anjing-anjing dengan penuh kasih dan perhatian memberi makan mereka, memandikan mereka, membersihkan mereka dan membuat mereka merasa senang dan sangat bisa dikawal.

Setelah 10 hari berakhir. Raja memerintahkan agar menteri segera dilemparkan ke anjing-anjing itu. Namun sesuatu menakjubkan terjadi pada menteri dan anjing-anjing itu. Anjing-anjing itu justru menjilati menteri seperti melihat tuannya sendiri.

Raja bertanya, "Apa yang terjadi dengan anjing-anjing ini? Mengapa mereka tidak menyerang dan membunuh menteri ini?" Sebelum ada yang bisa mengatakan sepatah kata pun menteri secara instan, membalas raja, "Yang Mulia"Saya melayani anjing hanya selama 10 hari dan bahkan layanan jangka pendek, mereka tidak lupa, apa yang saya lakukan untuk mereka. Namun. Saya melayani Anda, selama 10 tahun dan Anda dengan mudah lupa pengabadian saya kepada Anda! Semua yang saya lakukan untuk Anda, hanya karena satu kesalahan yang saya buat, anda lupa apa yang saya lakukan selama bertahun-tahun.

Saya mengutip kisah ini karena inilah gambaran realitas kehidupan manusia. Dimana sebuah kesalahan mengakibatkan hilangnya semua kebaikan yang diperbuat orang lain. Ketika manusia tak dapat menjaga nilai-nilai baik dalam kehidupannya, saat itu kaum hewan pun lebih terhormat daripada manusia. Itulah agaknya yang disinggung dalam ayat 179 surah Al-A'raf.

  ۚ أُولٰٓئِكَ كَالْأَنْعٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ  ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُونَ

"Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."

Pesan yang dapat kita renungkan dalam tulisan pendek dan terbatas ini adalah bahwa jika seseorang melakukan kesalahan pada kita, cobalah untuk memaafkan dan mengingat-ingat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan. Karena sejatinya, tak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa.

Acet Asrival
[Padang, 14 Juni 2020]

📷 https://pin.it/5NipoGD

https://www.berandaedukasi.com/2020/06/nilai-nilai-kehidupan.html?m=1


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter