Secangkir Kopi Untuk Sahabat



Oleh: Fitria Sartika


Hidup tidak hanya tentang manis ataupun pahit saja. Ibarat secangkir kopi, tidak akan lezat bila yang diseduh hanya gula atau kopi semata.
Kopi merupakan minuman pahit yang terasa enak bila dicampur dengan gula,  diseduh dengan air panas, dan diracik dengan cara yang pas. Minuman ini sangat cocok diminum saat berdiskusi, menulis, ataupun berkumpul bersama orang-orang terdekat  dalam rangka apapun.

Secangkir kopi bukanlah suatu hal yang tak ada hikmah dibalik keberadaannya, ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari minuman yang satu ini, dan ada banyak  pesan  yang tersimpan di balik kehadiran secangkir kopi. Saat pahit dan manis disirami dengan kebeningan air panas membuat minuman ini terasa enak, begitu juga dengan kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Hidup akan terasa bermakna jika kita mau menikmati dan mensyukuri pahit dan manisnya kehidupan ini dan diterima dengan hati yang suci serta dijalani dengan penuh keyakinan.
Hidup tidak akan bermakna apa-apa jika yang kita cicipi hanya pahitya saja, dan juga tidak akan berarti bila yang kita teguk hanya manisnya semata. Keduanya selalu berbarengan dalam rangka mengisi indahnya kehidupan manusia di dunia. Begitu adilnya Sang Maha Pencipta yang menciptakan dua sisi kehidupan yang berbeda ini dan disatukan untuk menjadi sebuah kehidupan yang sangat berarti.

Dalam hidup tidak akan selalu manis dan tidak akan selalu pahit, semuanya pasti berlalu bersama perputaran sang waktu, dan terus berputar seperti roda, kadang di atas dan terkadang di bawah, dan tidak akan tetap dalam satu posisi saja. Saat kesenangan menghampiri di saat yang sama kadang kesedihan dan kepiluan pun datang menjelma. Ketika semuanya melebur dalam satu waktu pasti akan sulit untuk dilewati karena tak kan ada yang menginginkan kepiluan datang dalam kebahagiaan.

Semua itu adalah aturan Sang Maha Kuasa yang telah menetapkan kebaikan dan hikmah dalam segala sesuatu yang terjadi pada hamba-Nya, tergantung hamba itu memaknai ketetapan-Nya. Jika hamba yang beriman dia pasti memaknai sebagai sebuah episode drama kehidupan yang harus dilewati. Tapi jika hamba yang lalai dalam hal ini, maka akan memaknainya sebagai cobaan dan kemalangan hidup yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Mari kita renungkan kembali wahai sahabatku, kita berada pada posisi yang mana selama ini?

Pahitnya kopi dan manisnya gula ibaratkan siang dan malam, berlawanan tapi saling melengkapi. Siang digunakan untuk bekerja, malam digunakan untuk beristirahat. Jika yang terjadi hanya siang saja maka manusia akan kelelahan yang tiada terkira. Jika malam saja yang disuguhkan-Nya, maka kapan manusia akan memperoleh sinar mentari yang menyehatkan? sementara manusia harus bekerja dalam waktu yang panjang dengan alat penerangan. Hal ini juga tidak akan baik bagi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia di dunia.

Pahit dan manisnya secangkir kopi juga bisa dimaknai dari dua jenis manusia yaitu laki-laki dan perempuan. Kopi dan gula dengan rasa yang berlawanan bercampur dalam suatu wadah sehingga bisa dinikmati dan dirasakan kelezatannya, sehingga diperoleh banyak manfaat. Begitu juga dengan manusia yang diciptakan Allah secara berpasang-pasangan, berlawanan jenis untuk saling mengenal, saling membantu, menopang, mendukung satu sama lain, agar tercipta kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera.

Dalam keseharian kita mungkin tak bisa jauh dari lawan jenis, apakah dia orang tua, anak, saudara, sahabat, guru, pasangan, atau yang lainnya. Walaupun kita memiliki sifat yang berbeda sebagai karunia Allah, dan kita memiliki watak yang kadang berlawanan satu sama lain. Namun, tatkala kita bersama dan bisa saling memahami, mengerti, dan mencintai satu sama lain, akan memunculkan sikap saling mendukung dalam menegakkan kehidupan yang lebih baik, untuk mencapai satu  tujuan yang sama yaitu menciptakan kedamaian dalam hati ketika berinteraksi dengan sesama makhluk Tuhan.

Akan tetapi tatkala kopi dan gula dicampurkan dalam porsi yang berlebihan tanpa diseduh dengan air yang memadai, maka tidak akan mendapatkan rasa yang nikmat lagi. Begitu juga dengan laki-laki dan perempuan yang bergaul secara berlebihan tanpa hubungan mahram ataupun ikatan yang sah berupa pernikahan. Niscaya  akan menimbulkan fitnah dan termasuk kepada dosa dan kemaksiatan.

Pahit dan manisnya kopi tak bakalan kekal, karena disirami dengan beningnya air panas yang mencampur adukan keduanya sehingga mudah untuk diteguk. Begitu juga dengan hidup, tak akan selamanya abadi. Tidak ada yang kekal dalam hidup ini, nasib bisa saja berubah sewaktu-waktu. Kadang sakit dan kadang sehat, di saat sakit kita sering mengeluh dan saat sehat kita seringkali lalai. Hal ini terjadi karena kita hanya memperhatikan satu sisi saja, coba  kita renungkan dan kita syukuri keduanya, maka kita akan merasakan keadilan Tuhan.

Ketika sehat kita gunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk mensyukuri segala nikmat-Nya dan menghambakan diri kepada-Nya. Ketika sakit maka bersabar dan berhusnudzhan kepada-Nya. Jadikan itu sebagai sarana pelebur noda dan dosa selama ini. Ada banyak lagi  hal di dunia ini yang saling berlawanan tapi tidak bisa dipisahkan dan keduanya saling membutuhkan untuk meneruskan kehidupan. Jadi, kita tidak bisa terlepas dari dua sisi kehidupan ibarat pahitnya kopi dan manisnya gula yang dicampurkan ke dalam gelas berisi air panas yang membuat rasanya menjadi lezat dan nikmat. karena itulah kehidupan sesungguhnya.

Payakumbuh, 03 April 2020
Fitria Sartika
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter