(Tak) Ada Yang Istimewa

2 komentar

        


Aku berasumsi  bahwa, hidupku tak ada yang istimewa. Barangkali, sebagian orang mengenalku istimewa dan, aku berterima kasih jika demikian. Bukan aku tak bersyukur dengan yang aku punya dan, bukan aku mengumpat sesuatu yang tidak aku punya, bukan demikian. Hanya saja aku merasa tidak ada yang istimewa, dengan begitu aku lebih nyaman menjalani hari-hari.

Seseorang bertanya melalui direct message, tentang hukum sesuatu menurut pandangan agama. Aku tak serta-merta menjawab. Aku tanya, mengapa bertanya demikian padaku? Secara jarang sekali aku bikin postingan tentang agama, apalagi masalah fiqih, berat itu bagiku. Aku cuma buat status kutipan ayat Al-Qur'an yang kebetulan aku temukan maknanya ketika memurajah hafalan atau tilawah. Orang itu membalas, kan kamu lulusan magister agama? Kata-kata itu seperti dua bola kasti melayang di tulang pipiku yang tirus. Ini yang aku khawatirkan sejak lama bahwa tuntutan akademis memang akan bertemu seperti ini. Baiklah, untuk menyelamatkan status akademisku, aku menjawab pertanyaan itu. Aku buka kembali kitab, aku pelajari kembali buku-buku, lalu mencari referensi. Ini aku lakukan untuk mengurangi kekeliruan ingatanku yang payah- yang memang akhir-akhir ini terporsir untuk menulis fiksi dan motivasi.

Selang kemudian orang tak kukenal itu membalas, kamu istimewa. Entah dari sudut pandang apa ia mengatakan begitu. Sungguh aku tak paham. Tapi, terima kasih kubalas padanya.

Aku belum berani apa-apa. Karena aku tidak menganggap ada yang istimewa dalam diriku. Bahkan di dunia kepenulisan yang sudah aku geluti 87 bulan tak membuat aku merasa pandai atau selama 20 tahun pendidikan yang kutempuh juga tak membuat diriku istimewa.

*

Aku tak sampai pikir menulis gelar di status media sosialku atau menulis note di dinding medsos kalau aku penulis atau lainnya.
Aku juga tak berani memosting poto duduk melingkar di antara orang-orang besar atau selfian dengan orang-orang terkenal. Dulu sekali pernah, ketika aku berpikir aku istimewa. Tapi sudah lama kuhapus karena aku melihat tak ada yang istimewa. Dan sungguh aku tak berani lagi mengupload poto ketika memberikan materi di depan orang-orang, atau ketika sedang memberi tausyiah di podium dengan membuat caption (ini-itu) sesuatu yang meminta orang untuk memuji atau berkomentar, "luar biasa".

Dan aku senang jika teman-temanku melakukannya. Bagiku mereka istimewa dengan apa yang mereka capai dan mereka jalani. Sungguh, mereka istimewa. Aku bahkan sering memberikan like di status-status teman-temanku dan/ memberi komentar di pajangan mereka. Aku merasa di situ nilai mereka, di saat itu mereka tumbuh dan percaya diri dan, kala itu mereka merasa istimewa dalam hidupnya. Tapi nilai-nilai kehidupan yang aku rasakan sungguh berbeda. Aku lebih suka melihat ketika mampu bersuara, menyukai ketika aku bisa mengatakan tidak, menerima meskipun aku punya alasan untuk menolak. Aku memilih damai dengan semua yang ada.

Aku mulai tertarik untuk menepi dan menganggap diriku biasa saja. Aku hanya menulis postingan di beberapa medsosku, hal itu aku lakukan untuk memelihara semangat menulis dan memupuknya untuk tumbuh. Aku menyukai tulisan-tulisan yang mengedukasi diriku untuk menulis. Aku ikuti beberapa penulis yang memberikan amunisi bagiku. Aku baca postingan teman-teman dan mempelajari setiap apa yang bisa aku pelajari. Aku bahagia melakukannya. Kebahagian seperti yang kurasakan kini adalah sesuatu yang istimewa. Inilah keistimewaan itu. Aku memilikinya.

*

Ya, tiap orang memiliki keistimewaan itu. Aku percaya bahwa, semua makhluk Tuhan itu unik dan istimewa. Semuanya diberikan potensi untuk mengekspresikan diri. Karena itu, bagi orang-orang yang berinteraksi dengan orang lain, jangan saling meremehkan. Cobalah untuk bersinergi membangun dorongan pada orang lain. Bis jadi apa yang orang lakukan tidak istimewa bagi kita, namun baginya itu suatu yang luar biasa sekali.

Aku punya banyak kenalanan. Semuanya memiliki keistimewaan masing-masing. Setahun lalu temanku jadi guru, lalu ia tiap hari memosting aktivitasnya di media sosial. Hingga suatu hari, ia berdiri di lapangan sekolah melaksanakan upacara. Kebetulan hari itu adalah gilirannya naik podium sebagai pembina upacara. Ia abadikan momen itu. Ia upload di media sosial miliknya dengan memberi caption, " Hari ini jadi pembina upacara". Wah amazing.

Temanku yang lain, beberapa pekan lalu menikah. Tiap sebentar ia memosting poto bedua sama kekasihnya. Indah memang, namun orang-orang merasa itu eforia awal-awal menikah. Tak apa. Tiap orang punya cara sendiri untuk merayakan kebahagian. Itulah keistimewaan itu.

Mungkin, bagi kita apa yang dilakukan orang lain biasa saja, tapi, bagi orang yang baru merasakan sesuatu itu adalah luar biasa baginya. Karena itu, cobalah untuk memahami temanmu, orang-orang yang kamu kenali, dan berikanlah dorongan untuk ia percaya diri.

Akhirnya, aku tulis di sini, semua orang istimewa. Aku, kamu, dan mereka.


Acet Asrival
(Padang, 9 Juni 2020)

Gambar: online.king.edu

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter