Tertawa Untuk Omong Kosong

1 komentar
Di akhir tahun kemarin--sehari sebelum pergantian tahun. Aku benar-benar ingin menikmati kopi di sebuah kafe elit di kota ini. Kebetulan dua hari sebelumnya, ada honor tulisan yang ditransfer seorang kenalan. Aku bersyukur karena memang momen akhir bulan (akhir tahun juga), uang bekal bulanan sudah menipis dan nyaris habis. Aku pun berangkat ke sebuah kafe dengan mengenakan baju kaos oblong dan celana jeans yang sudah cabik di bagian kedua lutut. Aku pun berangkat dengan gontai.

Aku memesan gojek menuju kafe kemudian memasuki kafe dengan percaya diri. Kafe yang satu ini biasanya dikunjungi oleh orang-orang yang kelihatannya berduit. Entah emang lagi banyak duit atau memang dipaksakan agar terlihat keren. Sama halnya aku yang hari itu kepengen banget nongkrong di sana. Sebenarnya, aku punya dua tujuan untuk memilih kafe itu. Pertama, untuk riset tulisan, kedua, untuk sosial eksperimen. Maaf, aku bukan berlagak seperti penulis hebat ataupun YouTubers yang punya subscribers jutaan orang. Sama sekali bukan. Meskipun aku suka menulis dan juga punya channel YouTube. Saat aku nulis ini, subscribe channel itu sekira... Ah sudahlah, kamu boleh lihat langsung dan tontonlah agak satu vidio motivasi di sana. Itu sudah senang bukan main sebagai YouTubers pemula. Hanya sekadar hobi dan belajar jadi kreator juga.

Ya, tujuanku hanya itu. Aku memilih duduk di bagian pojok menghadap tanaman bunga. Di bagian kiri ada kolam. Sebelah kanan ada beberapa orang merayakan ulang tahun. Aku yakin perempuan berkacamata yang pakai mahkota itu adalah yang sedang hajatan. Tapi aku cuek saja. Ya memang aku seperti orang asing yang tak dianggap siapa-siapa. Selain dekil, tampangku juga seperti orang yang belum mandi juga. Aku tahu itu, makanya aku pura-pura anggap mereka tak ada. Adil kan? Mereka tertawa.

Aku memesan kopi Latte. Latte memang lebih banyak kopi daripada susu. Aku ingin menikmati Latte dengan khidmat sembari mengeluarkan gawai dari dalam saku celana kiri. Aku mulai mengamati sekitaran kafe, orang-orang yang ada di sana dengan bermacam karakter yang mereka tampilkan. Di meja nomor 5 dua orang dewasa bercengkrama sangat serius. Aku amati bagaimana mereka bercakap. Sesekali jakun lelaki di meja itu naik turun, seperti raut wajah perempuan yang berubah ketika lelaki itu mengakhiri cakapnya. Mungkin bereka dalam masalah besar, atau kapal hubungan mereka akan tenggelam. Aku tak sengaja menguping, sepertinya aku harus tahu, apakah ini debat politik yang belum usai atau pertengkaran atas ketidakharmonisan sebuah hubungan. Aku benar-benar ingin tahu, kali ini aku benar-benar berdosa ikut campur urusan orang.

Perempuan itu mengatakan, mengapa pria di sebelahnya tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka? Padahal semua orang sudah tahu, tanggal nikah sudah dishare di grup-grup ngerumpi yang kebanyakan bully dan sampah. Lelaki di sebelahnya berusaha mencari alasan agar memenangkan keinginan dan keangkuhannya. Dasar gak punya perasaan. Ingin kulempar gelas Latte ke mukanya.

Di meja paling sudut bagian belakang, seorang lelaki paruh baya dengan style muda. Di bagian keningnya kacama menyangkut seperti ranting pohon reot. Di bibirnya terselip rokok. Sesekali matanya menatap gawai yang sedang ia mainkan dan menghembuskan asap rokok. Ia tertawa cekikan. Tawa yang benar-benar membuat aku ingin muntah.

Satu lagi, di tiga meja di depanku, seorang perempuan-- yang bila kuamati adalah anak kuliahan sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Di sebelahnya ada buku dan minuman Espresso. Ia amat fokus ke layar laptop. Seekor lalat menempel di di pipi sebelah kanan. Ia biarkan saja. Sesaat kemudian ia mulai tertawa. Entah apa sebabnya, kali ini aku tak ingin tahu urusan orang.

Selang sepuluh menit kemudian, seorang perempuan menyapaku dan minta izin duduk di meja yang sama. Kebetulan tiap meja sudah ada penghuninya dan meja yang aku tempati sendiri lebih memungkinkan untuknya duduk. Aku silakan dan kembali memainkan gawai dan menekan tuts untuk memulai menulis.
Ia juga tertawa, kali ini aku tersinggung, sebab ia tertawa sambil melihat wajahku. Mungkin aku aneh tapi ini sungguh tak adil.

Aku mengamati banyak kejadian di kafe ini. Tawa-tawa yang dibuat-buat. Omong kosong yang diobral dalam percakapan. Kala tawa-tawa itu kian memekakan telinga, sepasang kekasih di meja 05 itu mulai semakin memanas. Perempuan itu menepuk meja amat keras. Kopi berhamburan dan ia menangis lalu meninggalkan kafe. Tapi tawa-tawa di meja lain tak berhenti, makin menjadi. Kali ini mungkin tawa untuk dua orang yang sedang gagal membangun tawa bahagia di hari yang mereka rencanakan. Omong kosong memang barang murah untuk seseorang yang mengingkari janji pada kekasih yang telah bersetia.

Aku pulang sebelum semuanya meninggalkan kafe. Aku benar-benar kecewa. Ternyata kafe yang mewah tidak menjamin orang untuk bersenang-senang. Justru ada banyak kepalsuan di dalamnya. Aku, mereka, dan sepasang kekasih yang baru saja kandas. Aku benar-benar pulang dan berjanji tidak akan lagi berkunjung. Janji itu juga yang dulu aku ucapkan ketika seseorang yang pernah mengatakan setia tapi hanya omong kosong agar aku tertawa sebelum akhirnya menangis. Aku percaya, setelah itu,  dunia tak lagi menarik.

Sampai di rumah aku baru sadar, kenapa perempuan di sebelahku tadi tertawa melihatku. Sungguh aku tak sadar, bahwa baju kaos yang kupakai terbalik. Aku juga sadar, barangkali tawa-tawa di kafe itu adalah untukku, bukan untuk hal-hal omong kosong, bukan pula untuk sepasang kekasih yang bertengkar, tapi untukku yang benar-benar lupa bahwa aku memang pantas ditertawakan.

Acet Asrival
[Padang, 30 Desember 2019]


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter