Teks Khutbah Idul Adha (Esensi Qurban dan Pengorbanan)

Esensi (Qurban) dan Pengorbanan

Oleh Asrival, S.IQ, M.Pd

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Kaum Mulimimin, jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Pendahuluan khutbah Idul Adha ini, marilah kita memperbaharui keimanan kita pada Allah Swt, sebab berapa sering kita meninggalkan keimanan demi urusan dunia. Sudah berapa banyak dosa yang kita kerjakan karena menipisnya iman dalam diri kita. Juga senantiasa memperbaharui rasa syukur kita kepada-Nya. Karena sampai hari ini, Allah masih memberi kita nikmat yang sangat banyak. Tak dapat kita ukur, tak dapat kita timbang, tak dapat kita perkirakan, sudah berapa banyak nikmat dan karunia Allah yang telah kita rasakan sampai detik ini.

Udara yang kita hirup, nafas yang kita hembuskan. Berapa butir nasi yang sudah kita makan, berapa teguk air yang sudah kita minum. Berapa detak jantung setiap saat dalam kehidupan kita, dan berapa banyak nikmat yang sudah kita pakai. Kita tidak akan sanggup menghitung nikmat-nikmat Allah itu. Tapi, Allah tak meminta kita menghitungnya. Allah hanya minta kita bersyukur, “Lain syakartum, laazii dannakum” Dengan bersyukur Allah akan tambahkan keberkahan dalam nikmat itu. “Walain kafartum inna ‘azda bii lasyaadid”, namun, jika kita mendustai nikmat itu, sungguh keberkahan nikmat itu akan Allah cabut dan kelak kita akan diberikan balasan atas keingkaran itu.

Setidaknya, jika kita mau merenungkan, ada tiga nikmat besar yang kita rasakan sampai kini. Pertama, nikmat hidup. Allah masih memberikan kita kehidupan. Betapa banyak orang-orang yang sudah mendahului kita ingin kembali ke dunia untuk melaksanakan shalat Idul Adha ini. Mereka meminta kepada Allah untuk kembali ke dunia untuk melakukan amal saleh, tapi permintaan itu bukanlah permintaan yang bisa dikabulkan Allah. “Faidzaa jaa aajaluhum laa yasta’khiru nassaah walaa yastaqdimuun” Ketika ajal telah sampai pada tiap-tiap makhluk, tak ada yang bisa mengundur walau sesaat dan tak bisa dipercepat walau sesaat pun”

Jika Allah masih memberikan kita nikmat kehidupan, sejatinya Allah ingin kita untuk merenungkan Firman Allah surah Al-Mulk ayat kedua, “Alladzi khalaqalmauta walhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala” Allah ingin melihat siapa di antara manusia yang masih hidup itu, yang telah (akan) mempersiapkan amal terbaik menjelang kematiannya.

Yang kedua, nikmat sehat. Di antara saudara-saudara kita, keluarga kita yang kini terbaring sakit, di rawat di rumah sakit. Mereka bersedih hati karena tidak bisa ikut melaksanakan shalat idul Adha bersama kita, karena Allah cabut nikmat sehat dalam diri mereka. Bisa jadi dengan sakit itu, Allah hapus dosa-dosa mereka, karena mereka bersabar dalam menjalaninya. Kita yang diberi nikmat sehat, sejatinya kita manfaatkan untuk beramal saleh dalam rangka mensyukuri nikmat sehat itu.

Ada sebagia orang yang hari ini masih diberikan kehidupan kesehatan, tapi mereka enggan melaksanakan shalat Idul Adha. Mereka enggan melaksanaakan salat fardu. Mereka tidak mau zakat dan sedekah, karena satu nikmat besar yang Allah cabut dalam dirinya yakni nikmat iman untuk melaksanakan ibadah. Alhamdulillah hari ini kita masih mendapatkan ketiga nikmat besar itu, semoga dengan itu kita bisa memperbanyak amal saleh dan meninggalkan maksiat.

Kemudian kita bershalawat untuk Nabi kita Muhammad Saw, dengan melafadzkan “Allahumma shalli a’ala Muhammad wa ‘alaali Muhammad”. Semoga dengan shalawat yang senantiasa kita baca akan menjadi syafaat kelak ketika di hari akhirat nantinya. Salam dan kerinduan untuk beliau dan keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau hingga umat akhir zaman yang mengikuti jejak dan perjuangan beliau.

Dan khatib mengajak kita semua untuk senantiasa meningkatkan iman dan amal shalih. Karena dengan iman dan amal shalih itu, kita termasuk kepada orang-orang yang beruntung.  Karena nanti setiap jiwa akan menerima catatan amal masing-masing, apa yang mereka lakukan selama hidup dan apa persiapan mereka untuk menghadap Allah.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Kaum Mulimimin sidang jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Dalam kehidupan ini, sejak Nabi Adam diciptakan, hingga manusia yang hidup menjelang hari kiamat. Allah berikan sebagian keistimewaan terhadap ciptaan-Nya itu. Di antara sekian banyak manusia di bumi ini, ada 25 manusia yang dipilih Allah sebagai utusannya. Mereka adalah 25 Nabi dan rasul─ yang membawa dan menyampaikan risalah agama Allah untuk manusia di muka bumi ini. Di antara 25 nabi dan rasul itu, ada 5 rasul yang diberikan gelar istimewa dari Allah yakni Rasul Ulul Azmi─ karena perjuangan dan pengorbanan mereka yang begitu besar dalam berdakwah kepada manusia. Mereka adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad Saw.

Di antara 5 orang rasul tersebut ada 2 orang rasul yang disebutkan Allah sebagai figur terbaik yang kehidupannya, kepribadiannya, dan besarnya pengorbanannya terhadap Allah sebagai contoh tauladan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi, yakni Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As. Sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Al-Ahdzab : 21

ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym  ÇËÊÈ

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu

suri teladan yang baik bagimu (yaitu).”

Dan surah Al-Mumtahanah : 4

ôs% ôMtR%x. öNä3s9 îouqóé& ×puZ|¡ym þÎû zOŠÏdºtö/Î) tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB

“Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu

pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia;”

 

Begitu juga dengan ciptaan Allah yang lainnya. Allah mengistimewakan hari Jumat sebagai penghulu dari hari-hari yang lain. Allah mengistimewakan bulan Ramadhan sebagai penghulu dari semua bulan. Allah mengistimewakan Masjidil Haram (Ka’bah) sebagai tempat untuk berkumpulnya umat Islam. Allah mengistimewakan waktu malam untuk memberikan pahala yang lebih besar bagi manusia dalam rangka beribadah juga pada waktu hari-hari terbaik yang lebih Allah cintai untuk melakukan amal shalih yakni 10 hari di awal bulan Zulhijjah.

Sebagaimana Rasulullah bersabda:

 Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“. (HR. Imam Bukhari)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

 

Pada khutbah yang terbatas ini, khatib ingin menyampaikan sebuah judul khutbah yaitu Esensi Qur’ban dan Pengorbanan dalam kehidupan. Landasan utama yang mengantarkan kita pada khutbah ini yakni surah Al-Kautsar yang berbunyi:

!$¯RÎ) š»oYøsÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ

“Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”

 

Pada ayat pertama, Allah katakan, “Sesungguhnya, kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak” ayat ini menekankan kepada setiap manusia khususnya bagi setiap muslim bahwa Allah telah memberikan nikmat-nikmat yang begitu banyak untuk kita semua. Di antara nikmat yang paling dirasakan manusia adalah nikmat harta dan kekayaan. Dulunya, manusia lahir tanpa membawa bekal sedikitpun. Lahir tanpa barang, tanpa uang, tanpa makanan. Tidak ada yang melekat dari tubuh seorang manusia. Seiring waktu manusia bertumbuh, besar dan diberikan Allah rezeki berupa harta. Ada yang memiliki harta yang secukupnya saja. Ada yang diberikan harta yang banyak. Dari nikmat-nikmat itulah, Allah mengingatkan kembali kepada kita semua, “Sesungguhnya kami telah memberimu nikmat yang banyak.” Allah hanya meminta kepada kita untuk melaksanakan dua hal. Yang dapat dilihat dari ayat kedua. Yaitu “Maka dirikanlah shalat dan berqurbanlah.”

Pada ayat kedua ini, diawali huruf “FA” huruf “Fa” dalam konteks ini disebut dengan “Fa Sababiyah” yaitu huruf athaf atau (penghubung) antara ayat satu dan dua yang  menandakan suatu peristiwa yang secara langsung tanpa batas waktu yang lama untuk segera dilaksanakan.

Dalam ayat yang pertama Allah katakan bahwa Dia telah memberikan nikmat yang banyak, maka pada ayat kedua yaitu sebuah perintah yang sangat kuat yang harus disegarakan ketika seseorang mendapatkan nikmat-nikmat dari Allah. Yang pertama dengan cara “Dirikanlah Shalat”. Mendirikan salat bermakna lebih luas dibandingkan dengan mengerjakan salat. Mendirikan berarti membangun sesuatu yang kokoh. Sedangkan mengerjakan bisa saja pekerjaan itu tidak selesai, lalai, dan bahkan ditinggalkan.

 Hubungan antara nikmat dan perintah shalat adalah suatu bentuk dari wujud syukur kepada Allah atas pemberian nikmat-nikmat Allah. Dalam shalat akan lahir ketundukan dan kesadaran diri bahwa semua yang telah ia miliki adalah dari Allah. Dalam shalat akan mengingatkan diri kita bahwa tak ada yang bisa kita dapatkan melainkan pemberian Allah, Dalam shalat akan terjalin kedekatan dan konksi dengan Allah. Sehingga manusia jauh dari sifat sombong dan takabur, jauh dari riya dan sumah. Karena mereka menyadari bahwa apapun dalam kehidupan ini semuanya datang dari Allah dan akan kembali pada Allah.

Setelah mendirikan shalat, “Maka berqurbanlah”. Berqurban dalam ayat ini menunjukkan suatu bentuk perbuatan dalam bentuk ketaatan secara totalitas kepada Sang Pemberi rezeki, dalam konteks ini adalah berkaitan dengan cara menyembelih hewan qurban. Penyembelihan hewan qurban yang dilaksanakan setelah melaksanakan shalat “Idul Adha”. Bagi kaum muslim yang sudah meniatkan untuk berqurban dan sudah menyiapkan hewan qurban, maka laksanakanlah penyembelihan hewan qurban tersebut. Dengan penyembelihan hewan qurban itu kita telah melaksanakan suatu perintah Allah dalam rangka pengorbanan kita kepada Allah Swt.

Berqurban tidak melihat siapapun orangnya. Apakah dia kaya atau tidak. Apakah dia mampu atau tidak. Berqurban sejatinya adalah sebuah bentuk kesadaran diri dan totalitas ketaatan kepada Allah. Jika berqurban hanya bagi yang mampu saja, ternyata banyak dari kalangan yang tidak mampu, namun mereka berniat dan beri’tikad untuk bisa berqurban. Ada panggilan jiwa kesadaran terhadap perintah Allah yakni dengan mengorbankan apa yang mereka punya.

Kita bisa melihat ada orang yang hidup sederhana namun mereka ikut berqurban. Ada yang pekerjaannya hanya sebagai pemulung, namun ia bertekad untuk berqurban. Setelah sekian tahun menabung, ia bisa berqurban. Ada yang aktivitasnya dengan mengayuh becak atau kendaraan bahkan ia bisa berqurban satu ekor sapi dengan uang tabungan yang sudah sekian tahun ia niatkan untuk berqurban.

Esensi dari berqurban itu bisa dilihat dari sebuah kesadaran seorang muslim terhadap perintah dan totalitas dalam pengorbanan demi kecintaan pada Allah. Alangkah sayang, jika tahun ini, ada orang yang belum mau berqurban karena takut hartanya berkurang, takut uangnya habis dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidu. Takut karena uang untuk berqurban bisa digunakan dengan keperluan lain. Padahal, uangnya banyak, investasinya melimpah, tapi kesadaran dan pengorbanan itulah yang sudah terkikis dalam kehidupan dan keyakinannya.


Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Kaum Mulimimin sidang jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Berbicara tentang makna pengorbanan, sejatinya kita bisa mencontoh dan menaladani kehidupan Nabi Ibrahim As. Beliau adalah seorang fiqur manusia yang telah mencontohkan hakikat berqurban dalam kehidupannya. Sejak kecil, hidup Ibrahim adalah tentang pengorbanan. Waktu kecil beliau diasingkan oleh ibunya ke dalam sebuah gua. Beliau menjalani masa bayi dan anak-anak dalam  gua itu. Ibunya meninggalkan Ibrahim dalam gua itu agar tidak dibunuh oleh Namrud. Pada tahun kelahiran Ibrahim, para tukang sihir mengatakan pada Namrud bahwa tahun itu akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan membinasakan kekuasaan Namrud. Karena itulah Namrud memerintahkan agar semua bayi laki-laki yang lahir pada tahun itu harus dibunuh karena sebuah ketakutan yang berasal dari sebuah mimpi.

Ketika Ibrahim memasuki usia dewasa dan sudah dikarunia ilmu ketauhidan dari Allah, lalu Ibrahim mula-mulanya menyampaikan dakwahnya pada keluarganya (ayahnya). Ayah Ibrahim bernama Azar─ seorang pembuat patung dan penyembah berhala itu. Ibrahim menyampaikan dengan lembut kepada ayahnya, tapi justru ayahnya menjawab dengan kasar. Ayah Ibrahim berkata diceritakan dalam al-Qur’an surah Maryam 42-45.

øŒÎ) tA$s% ÏmÎ/L{ ÏMt/r'¯»tƒ zNÏ9 ßç7÷ès? $tB Ÿw ßìyJó¡tƒ Ÿwur çŽÅÇö7ムŸwur ÓÍ_øóムy7Ytã $\«øx© ÇÍËÈ

“ Ingatlah ketika ia Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

 

Lalu ayahnya menjawab dalam Maryam 46

tA$s% ë=Ïî#ur& |MRr& ô`tã ÓÉLygÏ9#uä ãLìÏdºtö/Î*¯»tƒ ( ûÈõs9 óO©9 ÏmtG^s? y7¨ZuHädöV{ ( ÎTöàf÷d$#ur $|Î=tB ÇÍÏÈ

          “Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama".

 

Berdakwah pada keluarga sudah, lalu Ibrahim mulai berdakwah kepada kaumnya dan raja Namrud. Ibrahim justru mengalami permusuhan dari raja Namrud dan kaumnya. Suatu ketika diceritakan dalam al-qur’an, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala kaumnya, lalu Ibrahim diintrogasi oleh Namrud dan Ibrahim mendapatkan suatu hukuman yang sangat berat yakni dibakar dalam tumpukan api unggun yang besar. Manakala api itu menyala, Allah firmankan kepada api, “Qulnā nāru kụnī bardaw wa salāman 'alā ibrāhīm” (Alanbiya: 69) “Wahai api menjadi dinginlah dan keselamatan atas Ibrahim

Ketika Ibrahim sudah menikah dan usianya sudah tua, beliau begitu ingin mempunyai keturunan. Di usianya yang tua itu, tak ada harapan lagi untuk punya anak. Tapi beliau senantiasa memanjatkan doa pada Allah. Doa itulah yang diabadikan dalam al-Qur’an “Rabbi Hablii Minasshalihin” “Ya Rabb, berikanlah kami anak yang shaleh”. Meskipun sudah lama tidak mempunyai anak, namun beliau tetap berdoa ya Allah berikanlah kami anak yang saleh. Sebuah permintaan yang besar dan mulia terkadang diuji dalam waktu yang lama dan proses yang panjang, dan kesabaran yang senantiasa menyelimuti kehidupan ini. Itulah Ibrahim, maka berkat doa yang ia panjatkan siang dan malam, pagi dan petang, bertahun-tahun lamanya, Allah pun kabulkan dengan mengakarunia dua orang anak yang saleh dan menjadi Nabi dan rasul, yakni Ismail As dan Ishaq As. Dari keturunan mereka inilah yang melahirkan nabi-nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad Saw.

Tapi ujian bagi orang-orang beriman tidak ada henti-hentinya. Ujian akan terus diberikan Allah untuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, bukan untuk melemahkan hamba-Nya itu, namun untuk memberikan banyak keutamaan dari ujian dan cobaan itu. Allah ingin melihat hamba-Nya siapa di antara hamba-hamba-Nya itu yang mau berjuangan dengan pengorbanan yang besar. Maka kelak hamba-Nya itulah yang akan diberi derajat di sisi-Nya dan balasan yang lebih besar atas pengorbanan itu.

Dalam hidup ini, jika kita senantiasa diuji oleh Allah dengan musibah, jangan bersedih hati, jangan putus asa, boleh jadi ujian itu untuk meningkatkan kualitas keimanan dan derajat kita di sisi Allah Swt. Seperti halnya Ibrahim, ketika sudah dikarunia anak yang shalih, santun pada orangtua, dan berbakti. Ketika itulah Allah ingin menguji Ibrahim, apakah Allah yang lebih ia cintai atau anak yang selama ini ia rindukan. Apakah perintah Allah lebih ia dahulukan daripada kecintaaan pada sesuatu yang disayang. Ibrahim pun bermimpi hingga tiga malam berturut-turut, lalu ia utarakan kepada anaknya, seperti yang dikisahkan Al-Quran surah As-Shafat 102 yaitu:

 

$¬Hs>sù x÷n=t/ çmyètB zÓ÷ë¡¡9$# tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ þÎoTÎ) 3ur& Îû ÏQ$uZyJø9$# þÎoTr& y7çtr2øŒr& öÝàR$$sù #sŒ$tB 2ts? 4 tA$s% ÏMt/r'¯»tƒ ö@yèøù$# $tB ãtB÷sè? ( þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# z`ÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÉËÈ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

 

Demi dan/ untuk pengorbanan cinta-Nya kepada Allah, ia rela mengorbankan anak kesayangannya demi tunduk dan patuhnya dalam menjalankan perintah Allah. Dari kisah pengorbanan Ibrahim ini, dapat kita renungkan bahwa kehidupan adalah ladangnya ujian. Tidak ada satu pun yang tidak diuji oleh Allah. Ujian itu diberikan_nya untuk melihat dan memberitahu hamba-Nya, siapa yang layak mendapatkan balasan terbaik dan tempat terbaik setelah mampu melewati ujian itu dengan sabar dan ridha.

Allah tak meminta mengorbankan anak kita. Allah tahu karena kita tidak akan sanggup mengorbankan anak. Maka Allah tahu kita mencintai harta, mencintai kekayaaan, maka Allah uji kita dengan harta tersebut? Sudahkah kita berqurban ketika hari raya idul adha datang? Sudahkan kita mengeluarkan zakat ketika sudah mencapai haul dan nisabnya? Sudahkan kita bersedeqah ketika rezeki Allah yang sudah banyak dilimpahkan pada kita? Sudahkah kita menyantuni anak yatim dan fakir miskin dari kekayaan yang kita punya? Sudahkah kita ikut serta membangun masjid di lingkungan tempat tinggal kita dan membangun tempat pendidikan untuk anak-anak generasi yang akan datang? Sudahkah kita mewakafkan harta kita tegak dan majunya agama Allah? Jika sudah, berarti kita telah mencontoh kehidupan Nabi Ibrahim As. Jika sudah berarti kita benar-benar menjadikan Ibrahim sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita. Jika sudah, berarti kita telah lulus dari ujian pengorbanan seperti pengorbanan Ibrahim As.

Namun jika seandainya sampai tahun ini belum juga terniat untuk berqurban, belum juga tergerak untuk berzakat, sampai hari ini belum juga mau bersedeqah, sampai hari ini tidak peduli dengan anak yatim dan fakir miskin, berarti kita tidak mau berkorban untuk Allah. Berarti kita enggan mengikuti Sunnah Rasulullah Muhammad Saw dan kita tidak mencontoh bagaimana Ibrahim mengorbankan semua yang dia miliki untuk mentaati Allah Swt.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Esensi dari berqurban itu sesungguhnya adalah suatu bukti ketaatan dan kepatuhan kita pada Allah Swt. Menyembelih hewan qurban juga sebuah jalinan kebersamaan antara sesama manusia dan jalinan ukhuwah islamiyah terhadap sesama muslim. Melalui penyembelihan hewan qurban kita menumbuhkan kecintaan pada Allah dan kecintaan pada sesama manusia. Itulah yang disebut dengan Hablumminallah dan Hamblumminannas. Yaitu kedekatan dan kebersamaan yang terjalin dengan Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki juga kedekatan kepada hamba Allah sebagai makhluk dan khalifah di muka bumi ini.

Makna berqurban adalah untuk mengingatkan diri kita bahwa dalam hidup ini kita diminta untuk siap dan ikhlas dalam mengerjakan perintah Allah. Kita shalat adalah sebuah pengorbanan. Kita berzakat dan sedeqah adalah sebuah pengorbanan. Kita berpuasa dan berhaji adalah sebuah pengorbanan. Betapa banyak di antara kita yang tidak siap berkorban untuk itu. Betapa banyak orang kaya yang enggan berqurban. Tidak mau bersedekah, tidak mau menjalankan shalat. Karena mereka tidak memahami hakikat pengorbanan dalam kehidupan ini. Jika seandainya dia paham esensi dari berqurban yang dilaksanakan setiap tahun itu, tentu dia akan meyakini satu hal bahwa dalam kehidupan ini kita dituntut untuk berqurban dan mengorbankan apa yang kita miliki, memberikan apa yang kita punya, dan melaksanakan apa yang kita bisa laksanakan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

 

Pada khutbah yang pertama ini, khatib menyimpulkan bahwa ada beberapa pelajaran dari pengorbanan Ibrahim dan esensinya bagi kehidupan umat Islam. Pertama, Allah telah memberikan kita nikmat yang banyak. Apapun bentuknya. Apakah nikmat materi atau nonmateri. Bagi Ibrahim, nikmat yang sangat ia rindukan adalah nikmat mempunyai anak yang saleh. Karena itu nikmat yang sekian tahun ia tunggu, maka Allah menguji Ibrahim dengan mengorbankan anaknya dalam rangka kepatuhan terhadap perintah Allah.

Bagi kita barangkali, harta atau kekayaan adalah bagian dari nikmat yang senantiasa kita rindukan, jika kita sudah memilikinya, maka bersyukurlah dengan cara mengingat Allah dalam penyembahan (salat) lalu berqubanlah untuk membuktikan rasa syukur atas nikmat-nikmat itu.

Pelajaran yang kedua adalah bahwa esensi berqurban atau pengorbanan adalah bahwa kita siap diuji dengan perintah-perintah Allah. Sebagaimana Ibrahim telah melewati banyak macam ujian dalam kehidupannya. Ujian masa kecil dari ancaman pembunuhan, keterasingan, dan kesendirian. Ujian dalam menyampaikan dakwah agama, kepada keluarganya, kepada kaumnya, pada penguasa. Bahkan Ibrahim juga mengalami percobaan pembunuhan dari raja Namrud dan kaumnya bahkan pengusiran dari ayanya sendiri.

Kita juga diuji dengan semua itu. Namun ujian kita tidak seperti ujian Ibrahim As. Kita diuji untuk berbakti pada orangtua. Diuji untuk mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang salih. Diuji dengan masyarakat yang seringkali kita temukan tidak begitu baik terhadap kita, padahal kita sudah mencoba berbuat baik kepada orang lain.

Kita diuji dengan harta agar kita mau berinfaqa, bersedekah, dan berqurban. Karena ujian harta seringkali kita kalah dalam melaksanakannya. Untuk itu, lewati semua ujian itu dengan sabar dan memohon pertolongan Allah.

Ketiga, kesimpulan dari khutbah ini adalah, kita hidup untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadap Allah Swt. Karena kehidupan di dunia hanyalah sementara. Jika dulu kita lahir tanpa bekal apapun, ketika kita kembali pada Allah kita harus membawa bekal. Perbedaan kelahiran dan kematian adalah, ketika kita lahir diberikan potensi untuk hidup dan beramal salih, dan ketika kita mati, kita harus membawa bekal amal itu untuk bekal di akhirat nanti.

Demikian khutbah yang singkat ini, semoga kita semua mendapatkan ampunan dan keberkahan dari Allah dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat nantinya. “Alhaqqu mirrabbik” kebenaran adalah milik Allah dan kesalahan adalah dari penulis yang dhaif ini.

 

Catatan: Teks khutbah ini tidak berisi rukun. Silakan pelajari rukun khutbah Idul Adha dan tata cara pelaksanaannya terlbih dahulu. Penulis hanya menyajikan teks sebagai bahan untuk para asatid yang berkenan membaca dan mengambil sedikit pelajaran dari-Nya.

 Padang, 30 Juli 2020

Penulis: (Alumni STAI-PIQ Sumbar dan UIN Imam Bonjol Padang)

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter