Badai Pasti Berlalu

Posting Komentar

                sumber: Pixabay.com

Pada 1974, Marga T membuat novel berjudul ‘Badai Pasti Berlalu’, kemudian difilmkan pada tahun 1977 yang disutradarai oleh Teguh Karya dengan judul yang sama. Novel dan film ini booming dengan penjualan ribuan eksemplar dan ribuan penonton. Sebuah kisah yang dikemas apik dengan serangkaian problematika yang dilalui oleh sang tokoh (Siska) dengan dua tokoh yang menemani alur cerita (Leo dan Helmi).  Novel ini bercerita tentang kisah cinta segi tiga. Oke, cukup sekian pengenalan sebuah romance klasik yang perlu pembaca ketahui, bahwa cinta segi tiga itu sudah ada sejak dulunya. Para penulis angkatan itu kerap mengeksplorasi cerita-cerita romance yang bernuansa kebudayaan, adat, dan lokalitas. Di Minangkabau juga banyak lahir novel-novel tentang percintaan seperti Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, dan Tenggelamnya Kapal Vanderwicjk.

Saya tidak mereview novel-novel tersebut, hanya sekadar mengambil judulnya saja untuk dijadikan sedikit tulisan. Tentunya, sebagai penulis yang sowan ke suhu, bilamana saya memakai kata yang sudah mereka populerkan sebelumnya, saya ingin mengenalkan bahwa itu adalah tulisan mereka. Seperti ‘Badai Pasti Berlalu’ sudah lazim disebut berulangkali oleh orang-orang. Chryse pun sudah mempopulerkan kata-kata tersebut dalam lagunya ‘Badai Pasti Berlalu. Sebagai edukasi, saya ingin membuka tulisan ini dengan pengenalan tentang sesuatu yang sangat berharga yang semoga menambah khazanah pengetahuan kita di bidang kesusastraan Indonesia.

Dalam hidup kita selalu ada badai. Badai bila dianalogikan sebagai masalah yang acap kita temui. Masalah itu bisa dalam bentuk personal (konflik batin) atau dalam bentuk sosial (hubungan dengan orang lain). Tentunya, kita tidak akan terlepas dari masalah-masalah yang kita temui dalam kehidupan ini. Tapi, kita harus menanamkan keyakinan yang kuat, bahwa bagaimana pun badai yang kita hadapi, pasti akan berlalu juga.

Kita hanya perlu menjalani kehadiran badai tersebut dengan tenang dan berusaha untuk melewatinya dengan sabar. Bagaimana pun beratnya masalah yang kita lalui, kita harus tetap tenang agar kita bisa menyelamatkan keadaan kehidupan kita. Jika masalah yang kita hadapi kemudian kita respon dengan sikap yang tidak tepat, justru akan menambah masalah baru yang juga akan menyulitkan kehidupan kita. Sikap yang tenang dan sabar dapat memberikan solusi terbaik dalam masalah-masalah yang kita hadapi itu.

Kita bisa belajar dari masalah. Belajar menjadi kuat dan tumbuh. Belajar menjadi hebat dan terlatih. Tidak ada masalah yang kita hadapi kecuali mendatangkan hikmah dan berkah. Kita hanya perlu meyakini bahwa masalah-masalah itu tentunya datang untuk menguji kemampuan kita dan melihat kesungguhan kita dalam menjalani kehidupan ini. Apakah kita layak menjadi pemenang atau justru menjadi pecundang.

Dalam menghadapi masalah kehidupan, kita bisa mengambil pelajaran. Jika kita pernah salah terhadap orang lain, kita bisa memperbaikinya untuk ke depannya. Jika kita pernah lalai dengan diri sendiri, kita bisa memberikan perhatian terhadap impian yang kita dekap selama ini. Jika kini kamu sedang ada masalah, percayalah nanti pasti akan selesai. Jangan gegabah saat-saat berat yang kita lalui. Serahkan diri pada Sang Maha Pengatur kehidupan ini, ada Dia yang selalu melihat dan memberikan jalan keluar dari setiap masalah dan kesulitan hidup.

Keep strong and smile.

Acet Asrival

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter