Filosofi Air

Posting Komentar


sumber: Pixabay.com

Air adalah sumber kehidupan. Semua yang ada di muka bumi ini Allah ciptakan dari air, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 30:

            وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”

Air bersumber dari dua arah, pertama dari hujan yang diturunkan Allah, seperti dalam surah Qaf ayat 9, “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” Yang kedua, air yang bersumber dari mata air yang ada dalam tanah, sebagaimana Allah gambarkan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 18, “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”

Dari beberapa ayat di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa air adalah salah satu karunia yang besar dari Allah. Air adalah seumber kehidupan yang daripadanya tumbuh tanaman, pepohonan, hewan, dan semua makhluk di muka bumi ini termasuk juga manusia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dari unsur air, kendati penciptaan manusia Allah sebutkan adalah dari tanah, tapi tanah juga mengandung unsur air. Di dalam tanah tersimpan air. Seperti firman Allah dalam Surah Al-Furqan ayat 54, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”

Sekarang marilah sejenak kita renungkan tentang air tersebut, sebagai sebuah filosofi hidup yang harus kita terapkan dalam kehidupan ini.

Sifat air adalah bergerak dan mengalir. Bergerak untuk terus mencapai muara, mengalir mengikuti arus membawanya pada muara yang tenang. Kehidupan manusia juga semestinya demikian. Dalam menjalani hidup, ia dituntut untuk bergerak. Apakah untuk menjalani aktivitas jasmani atau bergerak dalam mencari kebutuhan hidup. Pergerakan itulah yang akan melangsungkan kehidupan manusia sesuai dengan misi keberadaan mereka di bumi. Manusia juga semestinya mengalir mengikuti arusnya. Arus kehidupan manusia sudah Allah tentukan dan Allah beritahu pada manusia melalui firman-Nya yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur'an. Jika ingin mencapai muara yang tenang الْمُطْمَئِنَّةُ sudah sepatutnya manusia mengikuti arus tersebut agar mencapai ketenangan ketika kembali ke haribaan Tuhan. Sebagaimana Allah memanggil mereka dengan panggilan "Wahai jiwa yang tenang!"

Bergeraklah untuk terus hidup. Carilah karunia Allah di muka bumi dengan cara yang baik dan halal. Mengalirlah sesuai tuntunan yang telah Allah tetapkan, agar ketika kembali dalam keadaan tenang, seperti air yang sampai menuju muara.

Sifat air juga mencari tempat yang rendah. Dari tempat rendah itulah ia mampu menjalani kehidupannya dengan sempurna sampai ke muaranya. Sejatinya, kita juga demikian. Tak lah pantas dalam kehidupan ini merasa tinggi dan selalu ingin berada di atas orang lain. Kita berasal dari air dan semestinya mengikuti sifat air yang mencari tempat rendah untuk tetap hidup dengan sempurna. Jika diberikan kelebihan dibanding orang lain, syukurilah itu, sebagai sebuah karunia Tuhan untuk kita. Jangan pula karena kelebihan itu menjadikan kita tinggi hati dan memandang orang lain rendah. Tetaplah seperti air, kadang ia jatuh dari langit tapi tetap menyatu dengan bumi. Di bumi itu tempat makhluk-makhluk lemah dan membutuhkan orang lain.

 

Dariku, sahabatmu-

Acet Asrival

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter