Inspirasi dan Motivasi dalam Surah Al-Qurays

Posting Komentar

                            Sumber: Pixabay.com
                   

Surah al-Qurays adalah surah urutan ke-106 dalam mushaf al-Qur’an yang termasuk dalam surah-surah Makkiyah (baca: surah yang diturunkan sebelum Rasullah Muhammad hijrah ke Madinah). ‘Al-Qurays’ berarti ‘Orang-orang Qurays’─ yang bercerita sepintas tentang kehidupan orang-orang Qurays dan/ perjalanan perdagangan yang mereka tempuh. Adapun Qurays adalah sebuah suku yang bermukim di kota Makkah. Suku ini dikenal dengan kasta tertinggi, kuat, dan paling berpengaruh di kota itu.

Adapun sebab turunya surah Al-Qurays ini menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Munir adalah mengingatkan tentang nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada orang-orang Qurays. Mereka telah diberikan kemampuan dan kekuatan oleh Allah untuk menempuh perjalanan jauh melakukan perniagaan/perdagangan. Lainnya, suku Qurays tersebut juga diselamatkan Allah ketika pasukan Abrahah ingin menghancurkan Kakbah. Lainnya, suku Qurays ini juga diberikan keamaan dari rasa takut dalam perjalanan kehidupan mereka dan terhindar dari kelaparan karena kehidupan mereka berkecukupan dan kebanyakan dari mereka adalah hartawan yang berkuasa.

Ada hal menarik sekali yang membuat penulis ingin mengambil sedikit inspirasi dan motivasi dari ayat ini. Tentunya, jika kita mau mengambil pelajaran, kita akan mendapatkan sebuah inspirasi dan motivasi yang bisa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, orang-orang Qurays adalah sebuah komunitas yang punya hasrat dan ambisi. Mereka bukanlah sekelompok orang yang suka berdiam di rumah, bermalas-malasan dan tak mau bekerja. Tidak sama halnya dengan sebuah komunitas pada masa itu yang bernama suku Badui yang hidup nomaden dan tidak punya orientasi dalam kehidupan mereka. Suku Qurays berkedudukan kuat karena kota Makkah tersebut dikembangkan oleh nenek moyang mereka. Karena itulah, suku ini mempunyai peran yang sangat penting dalam maju atau mundurnya kota Makkah. Meskipun secara pradaban, kota Makkah waktu itu bukanlah sebuah peradaban maju. Hanyalah kota kecil di daerah padang pasir (gurun) yang diapit oleh dua imperium besar yang sedang berkuasa di seluruh penjuru dunia, yakni kerajaan Romawi dan Persia. Tapi keistimewaan kota itu adalah jalur perdagangan yang sering ditempuh oleh kafilah-kafilah dagang yang membuat kota tersebut ramai dikunjungi orang-orang dari luar Makkah.

Kedua, suku Qurays ini menempuh perjalanan dagang yang jauh dan lama. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qurays ayat 2, “Kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas”. Saat musim dingin mereka bertolak ke daerah Yaman dan ketika musim panas mereka menuju Syam. Jarak antara Makkah ke Yaman dan Syam sekira 1000an KM yang bila ditempuh dengan perjalanan masa itu dengan menggunakan unta, maka perjalanan itu melebihi perjalanan satu bulan lebih lamanya. Di sini dapat dilihat bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan hebat, yang lebih banyak menghabiskan kehidupannya untuk bekerja ketimbang berdiam di rumah-rumahnya. Maka wajar saja bila suku ini sukses dalam kehidupan keduniawian mereka, karena mereka giat berusaha dan bekerja.

Ketiga, dari semua nikmat yang diberikan Allah kepada mereka, Allah hanya mengingin mereka untuk menyebah Allah dan mengesakan-Nya─ yang telah menyelamatkan negeri tersebut dari serangan musuh-musuh. Sebagaimana terdapat pada ayat 3 “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (kakbah)”. Seperti kisah tentara Abrahah yang dihancurkan Allah karena ingin menghancurkan Kakbah. Ketika Abrahah dan pasukannya memasuki Makkah, orang-orang Qurays sangat ketakutan dan tidak mengadakan perlawanan, karena itulah Allah kirimkan pasukannya berupa burung Ababil yang diparuhnya terdapat bara-bara api dari neraka kemudian ditimpakan ke pasukan Abrahah, sehingga pasukan Abrahah hancur lebur dan musnah. Allah juga menyelamatkan mereka dari kelaparan (kemisikinan). Allah titipkan kekuatan dan keberanian untuk mereka melakukan perjalanan perdagangan dan Allah selamatkan mereka dari rasa ketakutan dalam perniagaan mereka. Seperti yang digambarkan pada ayat 4 “Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan keamanan dari rasa takut”. Allah hanya ingin mereka mau menyembah/mengesakan Allah ketika wahyu sudah sampai pada utusannya, dakwah sudah disampaikan oleh rasul dari kalangan mereka sendiri yakni nabi Muhammad Saw.

Pelajaran yang bisa kita petik sebagai seorang muslim adalah bahwa dalam kehidupan ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain dari pertolongan Allah. Allah beri kita kekuatan, pengetahuan, kesehatan, dan keberanian agar kita bisa merasakan nikmatnya kehidupan ini. Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan pada kita, sejatinya Allah hanya ingin kita menyadari bahwa semua yang kita miliki dalam kehidupan ini adalah pemberian Allah. Jika Allah yang beri, sewaktu-waktu Allah bisa saja ambil kembali. Allah hanya ingin mengingatkan pada kita bahwa tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain pertolongan dan pemberian dari-Nya.

Sebab itulah, sebagai hamba, kita hanya dituntut untuk menyembah pada-Nya, sebagai sebuah ungkapan syukur atas semua nikmat-nikmat yang diberikan Allah dalam kehidupan kita. Jika Allah memberikan kita begitu banyak nikmat dalam kehidupan ini, maka sejatinya kita lebih meningkat ibadah kita kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita ingin Allah memberikan pada kita nikmat-nikmat yang berlimpah dan berkah, kita juga harus meningkatkan ibadah kita pada-Nya. Melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, kehidupan kita akan terasa lebih bermakna. Kita menyadari kembali bahwa semua yang ada dalam kehidupan ini adalah milik Allah. Jika Allah beri, maka kita bersyukur. Jika Allah belum memberikan yang kita inginkan, kita berbaik sangka pada-Nya dan bersabar.

Melalui sebuah surah pendek tentang orang-orang Qurays ini, kita diingatkan kembali untuk meningkatkan ibadah kita pada-Nya, karena Allah telah memberikan nikmat-nikmat yang banyak dalam kehidupan kita. Seperti orang-orang Qurays yang diberikan nikmat-nikmat oleh Allah, pantaskah ketika dakwah itu sampai, tuntunan itu kita dengarkan, lantas kita ingkar? Renungkanlah.

 

Padang, 1 September

Acet Asrival

Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter