Seperti Sebuah Temu

Posting Komentar

     Sumber: Pixbay.com


Bila kau pandang dunia ketika matamu terbuka, kau 'kan dapati hamparan bumi dengan relief alam dan jagad raya yang luas. Kehidupan dunia seolah-olah sesuatu yang rumit dan berliku, ada banyak jalan yang kau telusuri, tempat-tempat yang kau singgahi, beserta orang-orang yang kau jumpai. Langkahmu tak 'kan pernah habis untuk menelusuri dan mencari ujung dari sebuah kehidupan. Namun, saat matamu mengatup, kau 'kan dapati bumi selebar kelopak mata, kehidupan seolah hanya seluas katup yang mengurung sunyi dan kenang di sana, yang menjadi durasi-durasi singkat tentang masa lalu, gambaran masa depan, berseling temu dan pisah, rindu dan harapan, juga ketidakpastian yang acap muncul.

Seperti sebuah temu di mataku kini. Dari dalam sebuah ruang yang kutatap hanya langit kamar yang terbentang seluas tikar namun di kelopak mataku yang mengatunya seumpa hamparan Hyde Park-- yang luas dan eksotik, nuansa hijau tanaman, bunga-bunga, bangku-bangku, dan orang-orang yang datang dan pulang. Seperti halnya kita, Di, pernah bertemu untuk lupa, bersua untuk tidak mengingat apa-apa, selain kenangan masa silam seperti nuansa Hyde Park itu.

Di mana kita pernah bertemu, di sana pula kita akan bersua kembali. Tapi itu tidak mudah menapaki jalan yang kita telusuri di dewasa ini. Tentunya jalan kita berbeda; kau berada di kutub Utara di kawasan Kaffeklubben, di sana dingin menyusup tulang, seperti saat kita berada di kota hujan, di bawah kaki Marapi dan Singgalang, kota tempat kita duduk memulai perjuangan masa depan itu. Dulu sekali.

Perjalananku ke arah kutub Selatan, di sana bukan sekadar dingin namun juga sunyi yang mendekap dalam diri. Aku berada di kawasan Port Lockroy tempat surat-surat bertumpu mencari tuannya, agar segala hajat diterima, segala pinta didapati, dan rindu-rindu itu menuia temu yang hangat dari kota kita kini, yang mataharinya panas, hawa pantai yang menguap di malam hari, seperti hangat dalam diri ketika aku mulai mengingat tentang kamu.

Dalam sebuah temu yang pendek itu, kita berbicara tanpa suara, hanya barisan teks-teks pendek yang menyampaikan kenang dan memperkuat tentang ingat. Kenang itu aku kemas dalam prosa pendek ini, yang aku tulis dengan takzim atasmu, sebab diriku yang bukan apa-apa, bukan siapa pula di hidupmu, hanya bisa mengemas kenang dengan cerita, ingin kukirim bait-bait puisi rindu, namun hati tak sampai jauh menyertai, sebab aku seumpama orang-orang yang berlalu-lalang di pasar dekat madrasah kita, yang hanya singgah untuk suatu keinginan, kemudian pergi untuk bekal perjalanan.

Adapun tentang ingat, hatiku tiada mampu melarang, sebab ingatan bukan dominan hati, ia tercipta dari pikiran. Ya pikiran yang kadang keliru menafsirkan ingatan itu, tapi, bukankah sebuah temu adalah sebuah ingatan yang lama? Aku mulai percaya bahwa setiap temu akan menjadi dua hal; menciptakan kenang dan membawa ingat.

Biarlah kubawa ingatan itu di perjalanan ini. Jalan yang kutempuh saat dewasaku menyimpan impian tentang cinta dan cita-cita.

Di sini, aku seperti diingatkan, bahwa hidup bukan perihal mencari, namun hidup adalah sebuah temu. Temu itu bukan hanya karena mencari, betapa banyak yang kita cari tak kunjung kita temui, betapa sering yang kita impikan tapi hilang karena keadaan, yang kita dekap erat-erat dalam doa, tapi lepas pada pisah. Ya, kita sedang diingatkan bahwa temu adalah hadiah dari sebuah perjalanan panjang dalam proses mencari jati diri dan jalan hidup yang lebih baik. Seperti pertemuan kembali aku dan dikau dalam barisan teks-teks pendek disertai emoticon yang mencairkan sebuah ingat dan kenang itu. Jujur aku bahagia ketika pesan terakhir di ujung malam yang mengurung orang-orang dalam mimpi tidur mereka yang barangkali berharap ada temu esok hari, kita terjaga di bawah garis malam yang menyerupai garis telapak kaki yang menyatukan langkah-langkah pada tujuannya dan impiannya; kita seumpama.

Kututup prosa pendek ini sembari mengatup kelopak mata. Malam yang larut, ingatan yang menyimpan kenang, seperti sebuah temu di ruang itu, hanya kangit kamar yang seluas tikar, tapi esok aku berharap kita sedang berada di Hyde Park, bersua untuk membicarakan tentang temu, rindu, dan masa depan.


Padang ||2020

Acet Asrival


Beranda Edukasi
Alumni Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Pegiat Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter